8/27/15

TEORI COLIN ---Asal Usul Manusia Dari Kelelawar




                                                   Download TEORI-COLIN.pdf in Ziddu.com

GEOLOGI CITRA PENGINDERAAN JAUH (DASAR TEORI)



Penginderaan Jauh adalah ilmu, seni dan teknik untuk memperoleh informasi suatu objek, daerah, dan fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa harus kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji ( Lillesand & Kiefer, 1994: 1; Bates & Jackson, 1968 : 434).

Silakan Klik Link download dibawah ini untuk membaca lebih lanjut.
Download GCPJ.pdf in Ziddu.com

ECE researchers tackle geoscience problem in the third dimension - Department of Electrical & Computer Engineering - University of Alberta


Edmonton—Studying fossils might not be on any ECE course syllabus, but that isn’t stopping a team of researchers from applying some computer engineering ingenuity to find a new method for digitizing, studying, and sharing microfossil samples.
Dr. Dileepan Joseph, PhD candidate Adam Harrison, and MSc student Cindy Wong have developed a new way to digitally capture and display microfossils and other specimens, called Virtual Reflected-Light Microscopy (VRLM). Viewing their shared images is similar to examining a real sample. The team is achieving this by capturing a series of digital images of a microfossil through a microscope. Each image is taken with a light source shifted automatically around the sample, creating different shading and shadows on its surface. This allows the team to extract a three-dimensional map of the sample, which computer software can further
interpret. The result is imagery that is on par with viewing a real microfossil sample. Users can control the angle, intensity, and type of light hitting the sample, and can even view it in 3-D using 3-D glasses. The method could change the way geoscientists examine microscopic samples that are collected through projects like the Integrated Ocean Drilling Program (IODP). These microfossils provide researchers with information that is crucial for climate study, and oil and gas exploration. Generally the samples are collected in large repositories all over the world. Researchers often need to travel far distances to study the vast collections of samples.
VRLM could facilitate a massive digital library of samples that can be interacted with through a web browser.
“You can have the best digital representation in the world, but if you can’t share it, it doesn’t matter,” Harrison said. For her part in the project, Wong developed a Java applet that allows end users to interact with the VRLM representations in a simple, intuitive way. “This is a much closer representation of using an actual microscope,” she said. “But it is also a way to get things out to a larger audience easily and more cost effectively.” Another benefit of VRLM concerns the automation of the identification process for the vast quantity of samples collected through the IODP. “We’re interested in ways of accelerating the identification process,” Joseph said. “This definitely gets us closer to that goal.” While the team continues to refine their system, they’re also looking
at other uses for VRLM. Because it can record data from any opaque material, there are definite applications in metallurgic study. They’ve also been in contact with the Natural History Museum in London, UK, which is providing them samples from its large collection of microfossils.
“There’s huge potential for educating the public with VRLM,” Joseph said. “People respond to its interactive nature.” “In the past, researchers might get a few images of a specimen under a
few lighting conditions. It would give them the general outline and some other properties, but it was not comparable to actually looking at a specimen,” Harrison said. “What we’re doing is like reverse
engineering: using multiple images together to extract the shape of samples. And with that we get important properties such as surface reflectance.





ECE researchers tackle geoscience problem in the third dimension - Department of Electrical & Computer Engineering - University of Alberta




ZAMAN KAPUR ---8 PERISTIWA BESAR MENUJU KEPUNAHAN

BIOSTRATIGRAFI KUANTITATIF



                                      Download Biostratigrafi-Kuantitatif.pdf in Ziddu.com

ZAMAN SILUR



                                             Download Geo-Sejarah-Silur.pptx in Ziddu.com

ZAMAN ORDOVISUM



                                          Download Geo-Sejarah-Ordovisium.pptx in Ziddu.com

ZAMAN KAMBRIUM



                                        Download Geo-Sejarah-Kambrium.pptx in Ziddu.com

GEOLOGI SEJARAH PRA-KAMBRIUM




                                       Download Geo-Sejarah-Pra-Kambrium.pptx in Ziddu.com

ZAMAN KAPUR






                                            Download ZAMAN-KAPUR.pptx in Ziddu.com

GEOLOGI SEJARAH -WAKTU









                                           Download Geo-Sejarah-Waktu.pptx in Ziddu.com

GEOLOGI SEJARAH KOSMOGONY




Silakan di klik dan di download
                                        Download Geo-Sejarah-Cosmogony.pptx in Ziddu.com

FIELD TRIP VULCANOLOGY GUNUNG MERAPI BAGIAN UTARA

 
Gunung Merapi (2968 m dpl.) sebagai salah satugunung api aktif Indonesia telah banyak menarikperhatian masyarakat, baik karena aktivitasnyamaupun keunikannya bila ditinjau dari sisi ilmiah dan budaya. Banyak penelitian yang telahdilakukan berkaitan dengan pemantauan untukkeperluan mitigasi maupun untuk peningkatanpemahaman terhadap karakteristik Gunung Merapiitu sendiri.
Lokasi field trip bertempat pada gunungapi merapi bagian utara dengan lima lokasi pengamatan yaitu :
Lp 1 bertempat di Gunung Gendol
Lp 2 bertempat di desa Sengi, candi Asu
Lp 3 bertempat di Palalangan lereng utara gunung Merapi
Lp 4 bertempat di pinggir jalan dekat kali menuju desa Selo Kab.Boyolali
Lp 5 bertempat di desa Selo
Lp 6 bertempat di desa Cepogo.
Lokasi Pengamatan ditujuh dengan mungunakan bus, dari kampus 1 pada jam 07:45.

Peralatan Yang Digunakan
Peta G.Merapi,
palu geologi,
buku catatan dan alat tulis
kamera.
 Penelitian Terdahulu
Daerah gunungapi merapi telah banyak diteliti oleh ahli-ahli geologi seperti :
(VanBamellan1949)(Berttomier,1994),(Newhalldll2000),(Andreastuti,1999),(Mulyanigsih 1999),(Voight dll 2000) dll.
Apabila dirunut dari utara ke selatan, gunungapi di Jawa Tengah akan dijumpai jajaran Gunung Ungaran, Telomoyo, Merbabu, dan terakhir Gunung Merapi. Dari keempat gunung tersebut, hanya Gunung Merapi yang masih bertahan sebagai gunungapi sampai saat ini.
Untuk pertama kalinya menurut cacatan sejarah, letusan Gunung Merapi terjadi dalam tahun 1006 demikian dahsyat menyebabkan Kerajaan Mataram pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Tmiur, meskipun hal tersebut masih diperselisihkan kebenarannya.
Awanpanas atau dikenal juga denga aliran piroklastik tidak dapat dipisahkan dari setiap letusan G. Merapi yang kemudian dikenal dengan Tipe Merapi.Secara terminologi, Tipe Merapi atau awanpanas tersebut dibedakan atas 2 macam, masing-masing awanpanas letusan dan awanpanas guguran.
Awanpanas Letusan (Suryo, 1978) serupa dengan St. Vincent type pyroclastics flows (Escher, 1933 dan Macdonald, 1972) sebagai akibat langsung dari penghancuran batuan penutup/kubah karena letusan. Sedangkan awanpanas guguran atau dome collapse pyroclastics flows sebagai akibat hancurnya kubah karena gravitasi, hal ini berkaitan dengan besarnya volume kubah aktif. Berdasarkan karakterisasi dari endapan vulkanik tersebut, Newhall, dkk (2000) membagi endapan letusan Merapi menjadi 3 jenis, yaitu Endapan Proto Merapi, Endapan Merapi Tua, dan Endapan Merapi Muda.
Endapan Proto Merapi diperkirakan berumur Pleistosen dan ditemukan di Bukit Turgo dan Plawangan (sisi selatan Merapi).Endapan Merapi Tua teridiri dari lava yang dikenal dengan Lava Batulawang (Bahar, 1984) berselingan dengan endapan piroklastik yang berumur 9630 ± 60 BP, dapat dijumpai di Srumbung, Cepogo. Proses pembentukan Merapi Tua berakhir dengan pelengserang endapan debris vulkanik dalam tahun 0 Masehi. Merapi Muda berlangsung sejak 1883 sampai sekarang.
Berthommier, 1990 bahkan membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap, yaitu Pra Merapi (>400.000 tahun yang lalu), Merapi Tua berumur antara 400.000 sampai 6.700 tahun yang lalu, kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6.700 – 2.200 tahun yang lalu, Merapi Muda 2.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu. A.D Wirakusumah, dkk. yang melakukan pemetaan geologi Gunung Merapi dalam tahun 1989 menyebutkan hanya dua waktu, yaitu batuan Gunung Merapi Muda dan Merapi Tua.
Text Box: 3Batuan Gunung Merapi Muda terdiri dari Aliran lava andesit piroksen.Endapan jatuhan piroklastika Merapi, Endapan aliran piroklastika muda dan guguran Merapi, dan Endapan lahar muda.Sedangkan batuan Merapi Tua terdiri dari Endapan aliran piroklastika tua Merapi, Endapan lahar tua Merapi, dan Aliran lava andesit piroksen.


Apabila merekontruksi kejadian letusan dan kelurusan pusat-pusat letusan selama kurun waktu 1786 – 2001, maka urutan pola pergeseran pusat letusan di kawasan puncak Merapi dapat dikelompokan dalam tiga periode letusan berdasarkan pola pergeseran pusat letusan, masing-masing periode 1786-1823, periode 1832 – 1872, dan periode 1883 – 2001. Secara garis besar pergeseran titik letusan tersebut dimulai dari sisi baratlaut pindah ke timur kemudian ke selatan dan kini kembali menempati sisi barat – baradaya.Akibat rajinnya meletus dan pusatnya selalu berpindah-pindah tempat serta setiap akhir dari satu siklus letusan hampir selalu menghasilkan kubah, maka topografi puncak Gunung Merapi selalu berubah wajah.

Peta topografi puncak Gunung Merapi (Www.volcano.si.edu)
 
Sesungguhnya tidak didapati kawah di puncak Merapi saat ini.Yang disebut-sebut sebagai Kawah Woro dan Kawah Gendol sesungguhnya adalah lapangan solfatara yang sangat aktif bersuhu antara 500oC di Lapangan Woro dan 700o C di Lapangan Gendol. Dalam tahun 1883 terdapat kawah sedalam 100 m dan secara bertahap terisi lava dan kemudian membentu kubah dan dikenal dengan Gunung Anyar atau Kubah Timur yang menjadi puncak Gunung Merapi sekarang.


Puncak G. Merapi adalah kesetimbangan antara pembentukan dan penghancuran kubah.Pada prinsipnya kubah lava yang tidak dihancurkan adalah bagian dari puncak dan kubah lava yang dihancurkan adalah bagian dari kawah. Pada umumnya kubah baru yang terbentuk akan tumbuh disamping atau tidak jauh atau tepat pada posisi kubah sebelumnya (Kubah 2001 tumbuh tepat di puncak Kubah 1998).

Perkembangan Kawah 1883 yang terisi lava yang menjadi cikal-bakal dari
Gunung Anyar,puncak Gunung Merapi saat ini.
 
 
DATA FIELD TRIP
3.1 Lokasi Pengamatan 1( Perbukitan Gendol)
- Perbukitan Gendol, yang terletak sekitar 20 km sebelah barat Merapi dengan titik kordinat E 11001129’’ S 07037103’’ dan diperkirakan oleh Bemmelen (1949) sebagai hasil longsoran Gunung Merapi, mempunyai umur jauh lebih tua dari Merapi (sekitar 3,5 juta tahun; Newhall dkk., 2000),sedangkan batuan tertua dari Merapi berumur 400.000. Bemmelen (1949) juga menyebutkan bahwa Bukit Gendol terdiri atas perselingan breksi lahar dan endapan fluviatil tufan.Fragmen vulkaniknya terdiri atas vitrofi rik augit-hipersten-horenblenda yang serupa dengan Merapi tua, tetapi berbeda denganmenoreh karena tidak ada hipersten.Sebaliknya Newhall (2000) menyanggah bahwa terdapat kesamaan antara batuan dari Gendol dan Menoreh yang terletak 7 km di sebelah baratnya dengan mineral asosiasi horenblenda-piroksen andesit.Selain itu batuan dariperbukitan Gendol mempunyai tingkat pelapukan yang sangat tinggi dibanding dengan Merapi.asosiasi mineral batuan Merapi tua tersusun atas horenblenda-piroksen andesit dengan atau tanpa ortopiroksen.
-. Pada tahun 2006 Dr.Sri Mulyaningsih menjumpai masih adanya sisa altrasi algrit dan hydrothermal disekitar lokasi.


Ditinjau dari karakteristik endapannya, perbukitanGendol tidak menunjukkan ciri endapan debris avalanche, yaitu hasil longsoran sektoral gunung apidalam skala besar, akibat ketidakstabilan gravitasi.

G.Gendol (Sketsa menghadap utara)

Lokasi Pengamata 2 (Candi ASU)
-. Candi Asu adalah nama sebuah candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi Pos, Kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Nama candi tersebut merupakan nama baru yang diberikan oleh masyarakat sekitarnya. Disebut Candi Asu karena dahulu di dekat candi tersebut terdapat banyak anjing.



-. Titik kordinat E 110°21′00″ S 7°32′00″

Candi Asu Sengi (Lp 2)

 
Candi Asu menghadap ke barat. Candi ini berdenah bujur sangkar dengan panjang sisi 7,94 meter. Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang.Dengan ukuran tersebut, candi ini termasuk candi kecil.
            -.Candi ini dibangun pada zaman raja Indra pada 9 masehi
            -. Candi ini tertimbun oleh pyroklasik dan lahar dari gunung Merapi
dengan jarak 12 km dari merapi menuju candi Asu, pada tahun
 1, Tahun 926 Masehi
                        2, Tahun 734 Masehi
                        3, Tahun 360 Masehi
                        4, Tahun 1963 Masehi
 
Lokasi Pengamatan 3 ( Lereng Utara gunung Merapi (Plalangan )
            -. Morfologi bergelombang kuat
            -. Pada lokasi di daerah  lereng utara Gunung Merapi, endapan ini menunjukkan perulangan lapisan jatuhan piroklastika
-. Terdapat singkapan aliran pyroklastik dan juga tuf yang berasal dari formasi Similir yang tua, terdapat juga pumice.
-. Terendapkan secara kuat dan trubulensi




-. Komposisi, andesit (pyroklastik) dan aliran tersebut terdapat fragment batuan dinding, endapan tersebut jika suda membatu akan sama sepeti pada formasi Nglarengan
-. Warna endapan adalah kemerahan (Pyrolastik)

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...