12/17/14

FOSIL SPECIES FUNISIA (SPECIES PERTAMA YANG KAWIN- MAWIN)



http://ideonexus.com/wp-content/uploads/2008/10/funsia.jpg
Mungkinkah perilaku kawin-mawin berasal dari sebuah masa 570 tahun lalu ? Tim paleontology yang sedang meneliti di Australia menunjuk ke masa itu lewat temuan fosil berupa hewan mirip sedotan di dasar laut.
           Funisia dorothea adalah nama hewan purba itu, ditemukan berbongol-bonggol, menancap rapat ke dasar laut  dangkal berpasir yang kini dikenal sebagai cekungan belakang busur Australia. Usia setiap individunya yang bersifat sebaya dan dasar bonggol yang sama mendasari kesimpulan team, bahwa hewan-hewan yang tumbuh tegak sepanjang 30 cm itu berasal dari penetasan telur  yang simultan, bukan dari kelahiran aseksual yang tidak terkoordinasi.
          Mary droser, professor paleontology di universitas California, yang memimpin ekskavasi funisia, menduga jenis hewan ( fosil) itu  punah ketika badai mengangkat dasar laut dan menguburnya kedalam pasir. Masa itu tergolong masa neoproterozoic, sebuah masa sepanjang 100 juta tahun yang terakhir 540 juta tahun lalu.
          Berdasarkan usianya, funisia membentuk ekosistem hewan pertama yang paling dini di bumi. Funisia bertubuh lunak, tetapi aman dari predator karena memang belum ada jenis hewan lainnya yang berkembang. Bahkan cacing dan hewan-hewan pengurai pun belum muncul. Secara umum, mereka tumbuh rapat satu sama lain, sebagian untuk memastikan kesuksesan reproduksi. Perilaku itu mirip cara spora dan karang bereproduksi dan berkembang saat ini. Fakta bahwa funisia terdiri atas paket-paket yang tumbuh rapat di laut, memungkinkan kami menyimpulkan kalau organisme ini berproduksi secara seksual.
          Dalam laporannya yang ditulis di jurnal science, drose wood, dan anggota tim lainnya belum mampu mengidentifikasi mulut funisia atau bagian anatomi lainnya. Tetapi yang sudah bisa dipastikan adalah perilaku seks funisia lebih bersifat fungsional daripada hubungan sosial.
          Droser memilih nama dorothea untuk fosil temuannya itu dari nama ibunya. Dorothy droser, ibunyalah yang selama ini berperan mengasuh anak-anaknya ketika ditinggal untuk meneliti, termasuk untuk bekal sebuah ekspedisi.

12/15/14

APPLIED MICROPALEONTOLOGY



http://rpasmd.org/rms/Applied_Micropaleontology_files/image008.png
The purpose of this final chapter is to demonstrate how the techniques for separation and identification of microfossils, and knowledge of their stratigraphic ranges and ecologic significance, are applied to geological problems by economic geologist. Some of the applications have already been mentioned, particularly in the chapter on environmental significance of microfossils. The present chapter will briefly discuss additional applications of micropaleontology to prospecting for petroleum, because it is the oil companies that today make the widest use of micropaleontology. In fact, much of the advance in our knowledge of the subject is due to the work of commercial micropaleontologist.
          Micropalentological information is used to establish the following types of information concering sedimentary rocks in the subsurface:
1.     The geological age of a given subsurface section
2.     Stratigraphic datums, or makers, whose stratigraphic position in relation to oil bearing strata aids in drilling “wildcat wells” in unproven territory
3.     Stratigraphic correlation from to well, and from area to area, on the basis of the micropaleontoloical marker horizons.
4.     The sedimentary environment in which a given lithological entity or sequence was deposited; this information is obtained by intelligent correlation of the microfossils of s given stratum with its containing lithology
5.     Tectonic activity in sedimentary basins as reflected by oscillations of the water depth. This is inferred from careful interpretations of the ecological significances of microfaunas. The tool used un this type of environmental reconstruction is the oscillation chart.

12/13/14

MEMBUAT LARUTAN HCl 0,1 N

Larutan HCl yang disediakan oleh toko bahan kimia/ apotek umumnya sangat kental dengan tingkat kepekatan 1 (satu) Normal, biasa ditulis 1 N. Larutan asam ini mudah sekali menguap dan berbahaya bila terhirup oleh manusia. Disamping itu larutan HCl 1 (satu) N juga sangat reaktif, bila terkena kulit mengakibatkan kulit mengelupas dan bila terkena kain, kain akan terbakar dan berlubang. Oleh sebab itu larutan HCl yang dibawa ke lapangan tingkat kepekatannya harus diturunkan dengan cara diencerkan.
Rumusan untuk mengencerkan adalah: V1xN1 = V2xN2. Apabila diinginkan N2=0,1 N, sedang larutan HCl yang dipunyai semula kadarnya 1 Normal, maka persamaan dapat dituliskan sebagai berikut:
V1 = 10 cc, N1 = 1 N, sedang kadar HCl yang diinginkan adalah 0,1 N, maka:
V1x N1 = V2X N2 10 cc X 1 N = 100 cc x 0,1 N
Artinya, pada larutan HCl, 0,1 Normal, ditambahkan padanya sebanyak sebanyak 90 cc air sehingga secara keseluruhan menjadi 100 cc air. Disarankan pada saat mngencerkan dengan memanfaatkan gelas ukur (yang ada skalanya).
Apabila tahapan pembersihan fosil tersebut telah selesai dilakukan, tempatkan fosil dalam kantong yang sudah disediakan, dan cantumkan keterangan fosil yang meliputi:
  • Lokasi (nama geografi, kedudukan lokasi, ketinggian tempat-tentukan dengan GPS, nama Formasi batuan).
  • Tanggal, bulan, dan tahun perolehan fosil
  • Nama fosil (dalam kedudukan taksonomi)
  • Nomor koleksi fosil (dengan kode dan nomor)

Agar informasi yang berkaitan dengan fosil tersebut tidak hilang, tulisan ditempatkan pada permukaan kantong, dituliskan dengan spidol waterprof, satu lembar tulisan pada kertas dengan urutan seperti tersebut tersebut di atas, dituliskan dengan spidol waterproof dan dimasukkan pada kantong plastik, usahakan kertas tidak basah terkena air dan tempatkan dalam kantong yang sudah diisi fosil. Apabila kantong contoh terbuat dari kain, tuliskan keterangan seperlunya pada kain tersebut. Apabila dimungkinkan dalam satu kantong dipergunakan untuk menyimpan satu jenis fosil yang sama. Dalam hal fosil yang tidak dapat disimpan dalam kantong (karena terlalu besar, misalnya fosil gading gajah), informasi tentang fosil dapat dituliskan pada permukaan fosil. Fosil dibuatkan kotak khusus terbuat dari kayu. Apabila mungkin tuliskan nomor koleksi pada fosil deskripsi singkat mengenai fosil tersebut sedang keterangan yang lain dapat dituliskan pada log book fosil. Penulisan hal-hal tersebut di atas, segera dilakukan, jangan sekali-kali menunda pekerjaan, satu dan lain hal karena ingatan anda tentang informasi yang berkaitan dengan fosil tersebut masih baik. Timbul pertanyaan: bagaimana bila kantong contoh mempergunakan kantong plastik. Untuk itu pilih kantong plastik yang tebal, transparan. Pergunakan kantong plastik dobel, masukan kertas catatan diantara lembaran plastik. Perlu diingat: sampel yang disimpan tanpa nomor dan informasi pelengkapnya tidak mempunyai nilai geologi.

(MIKROPALEONTOLOGI) TEKNIK DETERMINASI SAMPEL FOSIL


(paleontologi) MEMISAHKAN FOSIL DARI WASHED RESIDU


Beberapa cara pemisahan awal fosil dari mineral “pengotor” yang terdapat dalam washed residu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
  1. Cara pertama: washed residu dipanaskan hingga kering, dan segera ditempatkan pada tabung reaksi, dituangkan air yang bersih. Karena fosil Foraminifera umumnya berongga, maka fosil akan mengapung dan mineral yang relatif berat akan mengendap. Segera tuangkan kumpulan fosil pada sebuah tray yang sudah disediakan dan keringkan, untuk selanjutnya siap untuk diditerminasi.
  2. Cara kedua: metode manual, yaitu dengan model teknik picking, mempergunakan jarum dan tray dan mikroskop. Cara ini dianjurkan apabila jumlah mineral atau fosil yang didapatkan relatif sedikit. Apabila fosilnya yang sedikit, fosilnya yang diambil, bila mineralnya yang sedikit, mineralnya yang diambil. Tujuannya untuk mendapatkan kumpulan fosil yang “bersih” dari kontaminan. Cara pengambilannya dilakukan dengan jarum preparat yang ujungnya dibasahi air.
  3. Cara ketiga: washed residu dimasukkan kedalam tabung reaksi, dan padanya dituangkan larutan CCl4 (Carbon tetrachloride, berat jenis 1,59). Fosil yang bersifat calcareous akan mengapung, sementara mineral kuarsa, kalsit dan mineral lainnya akan tenggelam. CCl4 mudah menguap dan bersifat agak toksik. Uap tersebut apabila terhirup oleh manusia dapat mengganggu kesehatan. Sebagai penggantinya dapat dipergunakan CCl2 (tetrachlorethene, atau perchlorethylene, berat jenis 1,62) bersifat tidak toksik.
  4. Cara keempat: dengan membuat campuran 10 bagian bromoform (tribromomethane, CHBr3, berat jenis 2,89) dicampur dengan 4 bagian acetone (berat jenis 0,792 ) sehingga didapatkan cairan dengan berat jenis 2,2, terbukti lebih baik, dan dapat memisahkan fosil dengan mineral lain, relatif lebih sempurna.
  5. Cara kelima: seperti yang dianjurkan Danish Geological Survey, mempergunakan campuran bromoform 65 bagian dicampur dengan alcohol 35 bagian, dapat diperoleh larutan dengan berat jenis 2,0 yang mampu mengapungkan dengan sempurna fosil Foraminifera. Perlu dicatat harga bromoform kurang lebih 10 kali lebih mahal dibandingkan harga dengan CCl4
Semua model pemisahan awal tersebut dapat dilakukan tergantung kesiapan laboratorium. Fosil yang sudah dipisahkan untuk selanjutnya diproses dan dimanfaatkan lebih lanjut sesuai dengan kepentingan analisa paleontology. Untuk melakukan identifikasi fosil dipergunakan mikroskope binokuler, sedang untuk memotret fosil sekaligus memperbesar lapang pandang (kenampakan fosil) dipergunakan Scanning Eleetrone Microscope (SEM)
 
Catatan
Untuk penelitian Foraminifera yang masih hidup (life Foraminifera) yang berhasil ditangkap di laut lepas dengan plankton net atau diambil dari dasar laut, dapat dilakukan treatment sebagai berikut:

1.Pisahkan dan tempatkan test Foraminifera dalam tabung reaksi yang berisi air laut bersih. Tambahkan formalin untuk mengawetkan protoplasma dan teteskan larutan Rose Bengal (C2OH2O5T4Cl4Na2) untuk staining (memberi warna). Foraminifera yang hidup akan tampak berwarna oranye, sedang Foraminifera yang semula telah mati, akan tampak tidak berwarna.
2. Staining dapat dilakukan juga dengan memanfaatkan larutan Sudan Black B, yang mampu memberikan warna biru gelap.

CARA LAIN UNTUK MELUMATKAN SAMPEL FOSIL

Apabila treatment sampel dengan cara konvensional (hanya memanfaatkan air) ternyata tidak “mempan” maka dapat ditempuh dengan cara-cara berikut:
(1). Memanfaatkan garam soda
Apabila contoh batuan diremas dengan tangan ternyata tidak hancur, lakukan proses soda method.
  • Tempat contoh batuan dalam panci (non aluminium container) yang tahan panas
  • Tuangkan ke dalam panci air secukupnya, sehingga permukaan sampel terendam dalam air.
  • Tuangkan garam soda (Na2CO3 nH2O) sebanyak satu sendok makan
  • Tutup panci tersebut dan panaskan hingga mendidih selama 1 hingga 3 jam
  • Dengan cara ini, sampel dapat menjadi lunak dan dapat diproses lebih lanjut, untuk mendapatkan washed residu dengan metode air bersih.


(2). Memanfaatkan crystallization method
Proses yang lain dapat pula dengan crystalization method dengan tahapan sebagai berikut:
  • Tempat contoh pada panci
  • Panaskan untuk menghilangkan kandungan airnya
  • Masih dalam keadaan panas, tuangkan kristal garam glauber (Na2SO4 10 H2O) pada permukaan sampel, selanjutnya tuangkan larutan garam yang sama ke dalam panci, kemudian didihkan beberapa saat.
  • Sesaat maka larutan di dalam panci akan mendidih
  • Setelah mendidih tutup rapat-rapat panci tersebut dan biarkan dingin.
Dengan cara ini sampel dapat menjadi lunak dan siap dilakukan proses selanjutnya untuk mendapatkan washed residu.

(3). Memanfaatkan Hydrogen peroxida
Proses yang lain dapat pula dilakukan dengan hydrogen peroxida method dengan tahapan sebagai berikut:
  • Tempatkan sampel yang sudah dibuat ukuran kecil-kecil (dengan cara diremas dengan tangan) dalam panci
  • Tambahkan 15% larutan Hydrogen peroksida (H2O2) kedalam panci dan segera tutup rapat
  • Larutan akan segera “ tampak mendidih”
  • Larutan H2O2 bersama dengan bahan organic yang ada dalam sampel akan bereaksi menghasilkan gas CO2. Oleh sebab itu, proses ini sesuai diterapkan apabila sampel mengandung banyak organic matter
  • Keluaran gas ini yang dapat menghancurkan sampel, diperoleh sampel yang siap diproses untuk mendapatkan washed residu
(4). Memanfaatkan gasoline
Proses yang lain adalah gasoline (minyak tanah) method dapat diterapkan pada batuan jenis serpih yang cukup keras, dengan urutan pekerjaan sebagai berikut:
  • Tempatkan sampel dalam panci, panaskan hingga airnya habis menguap, kemudian didinginkan.
  • Tuangkan minyak tanah kedalam panci, hingga bongkahan serpih tampak basah, diamkan sesaat, kurang lebih selama setengah jam
  • Ambil dari panci sisa minyak berlebih dengan cara dituangkan keluar hingga sisa minyak habis
  • Tuangkan air secukupnya hingga semua sampel tenggelam dalam air
  • Minyak yang berada dalam pori-pori serpih, akan didesak keluar oleh air. Daya desak ini mampu memecah serpih hingga menjadi lunak
  • Hancuran serpih ini siap untuk dilakukan proses lanjutan untuk mendapatkan washed residu
Metode ini tidak disarankan karena minyak tanah mudah terbakar.

(PALEONTOLOGI) TATACARA TREATMENT SAMPEL FOSIL



11/7/14

TEORI COLIN (ASAL USUL MANUSIA DARI KELELAWAR)





           

PENGERTIAN DASAR BIOSTRATIGAFI



BIOSTRATIGRAFI
(selukbeluk pendahuluan biostratigrafi)


          Dalam buku SSI , yang merupakan turunan Code of Stratigraphy Nomenclature, diperkenalakan macam stratigrafi yang meliputi Biostratigrafi, Lithostratigrafi, Chronostraatigrafi, dan Geochornology. Dalam aplikasi praktis yang paling banyak dimanfaatkan adalah lithostratigrafi dan Biostratigrafi. Untuk pembuatan peta geologi dimanfaatkan konsep lithostratigrafi, yaitu penyusunan staritigrafi yang didasarkan pada variasi litologi yang dijumpai dilapangan. Berdasarkan atas kesamaan variasi litologi beberapa penampang stratigrafi terukur di lapangan dalam suatu cekungan sedimentasi, dapat diketahui “larinya’’ suatu Formasi batuan, apakah mempunyai tebal yang sama dan menerus, merupakan lapisan yang membaji atau berbentuk seperti lensa.
        Biostratigrafi, yang dasar penyusunannya memanfaatkan fosil data utamanya. Pengalaman penyusunan biostratigrafi membuktikan bahwa ketelitian penyusunan biostratigarfi sangat tergantung dari jenis fosil yang digunakan. Biostartigrafi terutama untuk mengetahui biozona (zona) yang mengandung cebakan hidrokarbon, sebagai salah satu komponen dalam melakukan korelasi paleontology, baik dalam satu cekungan sedimentasi ataupun antar cekungan sedimentasi yang berdekatan.
        Keberadaan fosil makro ternyata tidak merata di seluruh lapisan bataun sedimen, disamping fosil makro mudah rusak oleh pengaruh eksogen sehingga dalam proses determinasi lebih banyak kurang memuaskan.
        Studi mengenai mikropaleontologi, sejalan dengan penelitian foraminifera, yang diawali oleh Alcide d Orbigny (1802-1875), seorang paleontologist Perancis, diikuti dengan studi mengenai ostarcoda oleh Christian Goltfied Ehrenberg seorang paleontologist Jerman. Istilah micropalentologi pertama kali diperkenalkan oleh Ford pada tahun 1883, dalam penelitiannya tentang Bryozoa. Microfosil dalam core samples yang selanjutnya dimanfaatkan untuk menentukan umur geologi oleh W.Dames dan L.G. Bornemann, Jr 1874), dilanjutkan oleh Karrer, telah membuka pandangan baru tentang manfaat mikrofosil. Pembelajaran secara sistematika dari beberapa core samples hasil pemboran diawali oleh Grzybowsky (1897), seorang paleontologist Polandia, telah mampu membuka cakrawala baru, pemanfaatan mikrofosil dalam industry jasa eksplorasi.
        Fosil mikro, disamping dijumpai dalam jumlah cukup banyak, juga hampir selalau didapatkan pada semua lapisan sedimen. Beberapa pertimbangan, pemanfaatan fosil mikro untuk menyusun biostratigrafi antara lain :
·         Di dalam satuan volume handspeciesmen yang sama, akan dijumpai fosil mikro yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan keberadaan fosi makro.
·         Selain itu, fosil mikro yang didapatkan pada umumnya masih dalam keadaan baik, sehingga memudahkan dalam melakukan determinasi, sebaliknya fosil makro, pada umumnya ditemukan sudah dalam keadaan rusak, pecah-pecah, sehingga mengakibatkan kita kesulitan dalam melakukan determinasi.
Oleh karenanya, saat sekarang paleontologist dalam menyusun biostartigrafi lebih tetarik memanfaatkan fosil mikro. Perkembangan alat-alat laboratorium paleontology ditunjang dengan penemuan scening electrone micrograph yang mampu memperbesar lapanga pandang hingga lebih dari seribu kali. Disamping itu alat ini dapat dipakai untuk memotret, sehingga sangat membantu dalam menyusun biostratigrafi dengan memanfaatkan fosil mikro. Timbul pertanyaan mendasar, apakah semua jenis fosil dapat dimanfaatkan untuk menyusun biostratigrafi ?

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...