3/31/14

Ingat Lingkungan (Marchel M)

“SOLAR TENT’’ TENDA PENGUNGSIAN DARURAT SAAT EVAKUASI BENCANA ALAM

  1. PENDAHULUAN
Indonesia dilihat dari letak geografisnya merupakan daerah yang berpotensial terkena bencana alam. Sejak awal tahun 2014, Indonesia sudah mulai berselimut bencana dan air mata, kabut hitam seolah enggan beranjak dari bumi ibu pertiwi. Harapan dan doa-doa di akhir tahun untuk menyongsong tahun yang lebih baik oleh penduduk Indonesia, tampaknya mendapat hasil yang sedikit mengecewakan. Setidaknya, sejak awal tahun 2014, tidak kurang dari 282 bencana terjadi di Indonesia, baik yang berskala regional maupun nasional, baik yang biasa terjadi maupun yang tidak ladzim terjadi, seperti hujan es di Bandung.
Menurut data dari Pusdatinmas BNPB yang bersumber dari Pusdalops BNPB, sejak awal Januari hingga pertengahan Februari 2014 tercatat 282 bencana. Dimana, hampir setengah dari bencana yang terjadi didominasi oleh banjir, tercatat ada 108 kejadian bencana banjir, itupun hanya di bulan Januari. Selain banjir yang merupakan bencana musiman, ada beberapa bencana alam lainnya yang cukup besar antara lain kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara semenjak akhir tahun lalu, dan yang paling hangat adalah erupsi Gunung Kelud yang terjadi Kamis (13/02).
Menanggapi hal tersebut, maka diperlukan upaya cepat tanggap pemerintah. upaya cepat tanggap yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengevakuasi korban dan memfasilitasi segala kebutuhan korban bencana seperti fasilitas tenda. Dibutuhkan fasilitas tenda yang nantinya akan digunakan oleh pengungsi dalam kesehariaanya. Dalam fakta di lapangan, biasanya suatu tempat pengungsian fasilitas tenda kurang dapat memenuhi kebutuhan pengguna.
Tujuan dan manfaat desain solar tent untuk daerah bencana ini merupakan pengembangan desain dan konsep baru untuk daerah bencana, dengan tujuan utama untuk dapat lebih memenuhi kebutuhan para pengungsi akan suatu sarana. Dalam perancangan solar tent ini, pendekatan kebutuhan terhadap listrik serta penggunaanya untuk sarana dengan listrik ini dapat membantu para pengungsi untuk bertahan hidup di area isolasi setelah bencana atau membantu tim penyelamat jika tidak ada listrik di daerah bencana, dan pendekatan pengguna untuk dapat memberikan kesan baru terhadap sarana solar tent di daerah bencana, yang dilakukan dengan pendekatan terhadap kebutuhan material yaitu eco friendly.
  1. GAGASAN
Lokasi dan tata letak tempat-tempat pengungsian dan permukiman untuk orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat bencana harus berada di daerah-daerah yang risiko bahaya alamnya rendah. Tempat-tempat itu harus dirancang agar memaksimalkan keamanan dan perlindungan untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal, termasuk kaum perempuan dan mereka yang keamanan fisiknya paling berisiko (misalnya anak-anak, orang-orang tua, orang-orang cacat, keluarga-keluarga dengan orangtua tunggal, dan anggota-anggota berbagai kelompok minoritas agama dan etnis atau para penduduk asli).
Dalam menangapi hal tersebu maka solar tent dapat dijadi sebagai jawabannya. Solar Tent adalah tenda dengan ukuran 6 X 12 m , dengan panel surya di atap tenda.Tenda ini dapat digunakan sebagai base camp atau sebagai tempat untuk memberikan bantuan dan perlindungan bagi pengungsi selama operasi bantuan bencana. Tenda ini dapat menghasilkan sekitar 1000 watt elctricity, dengan listrik ini dapat membantu para pengungsi untuk bertahan hidup di area isolasi setelah bencana atau membantu tim penyelamat jika tidak ada listrik di daerah bencana. dengan tenda ini korban bencana dapat bertahan.
Yang dapat memiliki tenda ini :
- organisasi yang terlibat dalam penanggulangan bencana
- Tim SAR
- Desa dengan penduduk sekitar 30 orang harus memiliki 1
Karakteristik:
- Diperlengkapi dengan panel surya yang ringan , berat sekitar 1,4 Kg sehingga dapat dipindahkan dengan mudah.
- Panel surya dapat dilepas dari atap karena menggunakan velcro yang menghubunggkan tongkat dengan atap.
- tenda memiliki baterai, sehingga listrik yang tertampung melalui panel surya dapat digunakan di malam hari.
- karena tenda ini dapat menghasilkan listrik , masyarakat dapat menggunakan perangkat tersebut untuk sarana mengisi baterei hp atau sejenisya untuk berkomunikasi dan dapat beraktivitas dimalam hari, jadi jika tenda ini terdapat di daerah yang terisolasi, mereka dapat menghubungi tim penyelamat untuk membantu mereka.
- Tenda ini bisa muat untuk 30 orang.


 
 
Solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya yaitu sebuah tenda pengungsian yang biasa-biasa saja, sebuah tenda tanpa panel surya dan hanya mengunakan alat penerang seadanya saja.
Dengan mengunakan panel surya dan baterei, maka tenda ini dapat menampung energi sebesar 1000 watt yang nantinya dapat digunakan sebagai listrik dalam menerangi bagian dalam tenda ataupun bisa menjadi penunjang dalam berkomunikasi dengan alat bantu elektronik. Tenda pengungsian yang memiliki alat penerang (lampu), senantiasa membuat pengungsi korban bencana alam merasa nyaman, apalagi disaat keadaan darurat dengan kondisi daerah yang sedang terisolasi pada saat itu. Selain mempunyai kelebihan dalam menyumbangkan listrik dalam keadaan darurat, solar tent juga mempunyai kelemahan,yaitu jika cuaca mendung atau hujan maka sinar matahari tidak dapat menembus atmosfer sehingga panel surya tidak dapat menyerap energi matahari dan baterei penggisian energipun pada saat itu kosong.
Adapun pihak-pihak yang dipertimbangkan dapat membantu dalam pengimplementasikan program ini yaitu :
1) Pemerintah Kabupaten Setempat (Tempat Kejadian Bencana)
Dengan dukungan dari pemerintah setempat, maka pengadaan dan pengunaan Solar tent sebagai prasarana darurat didaerah bencana dapat terlaksana, dan juga diharapkan permerintah setempat dapat menghasilkan rencana yang sinergis antara perencanaan, penggangaran, pelaksanaan dan pengawasan operasional dalam pengadaan dan pengunaan dari solar tent itu sendiri.
2) BPPT ( Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi )
Sebagai Pengrealisasian pengadaan dari solar tent.

Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan gagasan sehingga tujuan atau perbaikan yang diharapkan dapat tercapai :
Tahap Operasi :
Kegiatan operasi dimaksudkan segala upaya tindakan penanggulangan bencana dan atau penanganan pengungsi sebagai upaya untuk penyelamatan jiwa manusia dan pengurangan kerugian harta benda dan memperkecil dampak yang diakibatkan oleh adanya bencana dan atau penanganan pengungsi baik pada tahap sebelum terjadi bencana, dan saat pada saat terjadinya bencana.
Sebelum terjadi Bencana :
  • Membuat peta rawan bencana dan menginformasikannya kepada pemerintah dan masyarakat yang bersangkutan.
  • Menyiapkan peralatan dalam pengadaan solar tent seperti, tenda militer, baterei penampung energi (Aki) dan panel surya, disuatu desa atau daerah yang pasti akan terkena bencana.
  • Menyusun potensi Satuan Hansip/Linmas dan Satgas PBP di wilayah.
  • Menetapkan daerah alternativ pengungsian korban bercana.
  • Menyusun program PBP, antara lain pendidikan dan pelatihan, Geladi Posko dan Geladi Lapang PBP, serta Prosedur Tetap PBP sesuai kondisi wilayah.
  • Menetapkan anggaran PBP dalam APBD.
Pada saat terjadi Bencana :
  • Walikota daerah setempat menyampaikan pernyataan tentang terjadinya bencana dan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Kota Blitar.
  • Memberikan petunjuk teknis pelaksanaan PBP yaitu mengadakan rapat
koordinasi dan konsolidasi Satlak PBP, mengirimkan Tim Reaksi Cepat/ Satuan Tugas Tanggap Darurat ke daerah bencana sertamenyiapkan Satgas PBP.
  • Mengirimkan bantuan Satgas PBP ke daerah bencana untuk memperkuat
Unit Tanggap DaruratKecamatan dan Kelurahan.
  • Memberikan bantuan sarana dan prasarana yang diperlukan, antara lain
penyediaan tempat penampungan sementara korban bencana (Solar Tent), bantuan tenaga medis/ paramedic, obat-obatan, pakaian dan bahan makanan serta melakukan penilaian kerusakan dan kebutuhan secara cepat (rapid assessment).
  • Melaporkan kejadian bencana dan penanggulangannya kepada Gubernur.
Tahap Permintaan, Penerimaan Dan Penyaluran Bantuan.
  • Pemerintah Kota setempat / Satlak PBP Kota dapat mengajukan permintaan bantuan kepada Provinsi atau Pemerintah Pusat maupun lembaga lain. Satlak PBP Kota dapat meminta bantuan kepada satuan TNI dan POLRI untuk penanganan tanggap darurat.
  • Penerimaan bantuan luar negeri tidak boleh merugikan kepentingan negara, masyarakat.
  • Penyaluran bantuan mengacu dan berpedoman pada pra kebutuhan bantuan di daerah bencana kebutuhan yang telah dipersiapkan.
  • Kerja sama antar lembaga dapat dilakukan dalam bidang teknologi, pendidikan dan pelatihan, pendanaan, peralatan, pengadaan logistik, personil, bantuan kemanusiaan dan atau bantuan lainya baik yang bersifat sukarela maupun atas permintaan.
Tahap Koordinasi Dan Pengendalian
Koordinasi
  • Komando dan pengendalian dilakukan oleh Walikota setempat selaku Ketua Satlak PBP di kota itu.
  • Walikota selaku Ketua Satlak PBP melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi penanggulangan bencana dan atau penanganan pengungsi.
Pengendalian
  • Pelaksanaan pengendalian penanggulangan pada saat terjadi bencana, Pos Komando ditempatkan dicRuspusdalops PBP.
  • Untuk efektifitas pelaksanaan operasi, Pos Komando dapat dibentuk Posko Bergerak PBP
Tahap Pembiayaan
  • Biaya yang dikeluarkan atas pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi dibebankan kepada APBD Kota setempat, dan atau APBD Propinsi, dan APBN sesuai dengan skala bencana.
  • Dalam rangka meringankan beban penderitaan korban bencana dan pengungsian dapat menerima bantuan yang berasal dari swadaya masyarakat, bantuan luar negeri maupun sumber dana lain yang sah dan tidak mengikat.
Dan yang terkahir ialah Tahap Monitoring dan Evaluasi
Oleh karena penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa seseorang, kelompok dan masyarakat, maka operasi kegiatan harus dilakukan monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi diperlukan guna mempelajari perencanaan yang dibuat, memantau pelaksanaan di lapangan serta menilai hasil akhir, sehingga berhasil dalam menjaga dan mempertahankan hidup dan kehidupan.

KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan merupakan sebuah metode terapan dalam penagulangan saat terjadi bencana disuatu daerah , dengan mengunakan Solar Tent yang dirancang dengan kombinasi antara tenda militer dengan panel surya, yang nantinya akan membuat tenda pengungisan mempunyai listrik untuk penerangan disaat daerah tersebut terisolasi. Untuk mengimplementasikan gagasan ini sehingga tujuan atau perbaikan yang diharapkan dapat tercapai adapun Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan yaitu : tahap operasi, tahap permintaan, penerimaan, penyaluran bantuan, tahap koordinasi dan pengendalian, Tahap Pembiayaan Dan yang terkahir ialah Tahap Monitoring dan Evaluasi.
Dan manfaat dari Solar Tent ini yaitu :
  1. membuat pengungsi korban bencana alam merasa nyaman, apalagi disaat
keadaan darurat dengan kondisi daerah yang sedang terisolasi pada saat itu
  1. Pengungsi dapat beraktivitas di malam hari (di dalam tenda)
  2. Tenda ini dapat menghasilkan sekitar 1000 watt elctricity , dengan listrik itu dapat membantu para pengungsi untuk bertahan hidup di area isolasi setelah bencana atau membantu tim penyelamat jika tidak ada listrik di daerah bencana.
  3. Energi sebesar 1000 watt yang nantinya dapat digunakan sebagai listrik dalam menerangi bagian dalam tenda ataupun bisa menjadi penunjang dalam berkomunikasi dengan alat bantu elektronik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006.IASC Natural Disaster Guidelines Brookings. Washington, DC.
Anonim. 2007. Pengenalan karakteistik bencana dan upaya mitigasinya di
Indoesia, ediai II, Pelaksana Harian BAKORNAS PB, Jakarta Pusat, 98.
Mulyaningsih S. 2010. Pengantar Geologi Lingkungan. Panduan. Yogyakarta.
www. Kompassiana.com (2014, Indonesia Siaga Bencana Sejak Awal Tahun)
www. Mdmc.or.id(Respon Bencana)
www.Beritagar.com (Pengungsi Sinabung Meningkat)

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...