12/13/14

(paleontologi) MEMISAHKAN FOSIL DARI WASHED RESIDU


Beberapa cara pemisahan awal fosil dari mineral “pengotor” yang terdapat dalam washed residu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
  1. Cara pertama: washed residu dipanaskan hingga kering, dan segera ditempatkan pada tabung reaksi, dituangkan air yang bersih. Karena fosil Foraminifera umumnya berongga, maka fosil akan mengapung dan mineral yang relatif berat akan mengendap. Segera tuangkan kumpulan fosil pada sebuah tray yang sudah disediakan dan keringkan, untuk selanjutnya siap untuk diditerminasi.
  2. Cara kedua: metode manual, yaitu dengan model teknik picking, mempergunakan jarum dan tray dan mikroskop. Cara ini dianjurkan apabila jumlah mineral atau fosil yang didapatkan relatif sedikit. Apabila fosilnya yang sedikit, fosilnya yang diambil, bila mineralnya yang sedikit, mineralnya yang diambil. Tujuannya untuk mendapatkan kumpulan fosil yang “bersih” dari kontaminan. Cara pengambilannya dilakukan dengan jarum preparat yang ujungnya dibasahi air.
  3. Cara ketiga: washed residu dimasukkan kedalam tabung reaksi, dan padanya dituangkan larutan CCl4 (Carbon tetrachloride, berat jenis 1,59). Fosil yang bersifat calcareous akan mengapung, sementara mineral kuarsa, kalsit dan mineral lainnya akan tenggelam. CCl4 mudah menguap dan bersifat agak toksik. Uap tersebut apabila terhirup oleh manusia dapat mengganggu kesehatan. Sebagai penggantinya dapat dipergunakan CCl2 (tetrachlorethene, atau perchlorethylene, berat jenis 1,62) bersifat tidak toksik.
  4. Cara keempat: dengan membuat campuran 10 bagian bromoform (tribromomethane, CHBr3, berat jenis 2,89) dicampur dengan 4 bagian acetone (berat jenis 0,792 ) sehingga didapatkan cairan dengan berat jenis 2,2, terbukti lebih baik, dan dapat memisahkan fosil dengan mineral lain, relatif lebih sempurna.
  5. Cara kelima: seperti yang dianjurkan Danish Geological Survey, mempergunakan campuran bromoform 65 bagian dicampur dengan alcohol 35 bagian, dapat diperoleh larutan dengan berat jenis 2,0 yang mampu mengapungkan dengan sempurna fosil Foraminifera. Perlu dicatat harga bromoform kurang lebih 10 kali lebih mahal dibandingkan harga dengan CCl4
Semua model pemisahan awal tersebut dapat dilakukan tergantung kesiapan laboratorium. Fosil yang sudah dipisahkan untuk selanjutnya diproses dan dimanfaatkan lebih lanjut sesuai dengan kepentingan analisa paleontology. Untuk melakukan identifikasi fosil dipergunakan mikroskope binokuler, sedang untuk memotret fosil sekaligus memperbesar lapang pandang (kenampakan fosil) dipergunakan Scanning Eleetrone Microscope (SEM)
 
Catatan
Untuk penelitian Foraminifera yang masih hidup (life Foraminifera) yang berhasil ditangkap di laut lepas dengan plankton net atau diambil dari dasar laut, dapat dilakukan treatment sebagai berikut:

1.Pisahkan dan tempatkan test Foraminifera dalam tabung reaksi yang berisi air laut bersih. Tambahkan formalin untuk mengawetkan protoplasma dan teteskan larutan Rose Bengal (C2OH2O5T4Cl4Na2) untuk staining (memberi warna). Foraminifera yang hidup akan tampak berwarna oranye, sedang Foraminifera yang semula telah mati, akan tampak tidak berwarna.
2. Staining dapat dilakukan juga dengan memanfaatkan larutan Sudan Black B, yang mampu memberikan warna biru gelap.

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...