10/26/18

TATACARA TREATMENT SAMPEL FOSIL MAKRO


Pengelolaan sampel untuk mendapatkan fosil merupakan tahap akhir yang menentukan keberhasilan memisahkan fosil dari batuan. Seorang paleontologist dengan intuisinya hendaknya mampu menduga jenis batuan yang banyak mengandung fosil, sedikit mengandung fosil dan tidak mengandung fosil (barren fosil), khususnya untuk keberadaan fosil mikro. Untuk fosil makro, karena ukurannya relatif besar dapat langsung dilihat di lapangan. Perlakuan untuk mendapatkan fosil makro, agak  berbeda dengan fosil mikro. Pada saat akan bekerja di lapangan jangan dilupakan mempersiapkan peralatan lapangan, dalam bentuk palu geologi, pahat kecil, kuas, kantong sampel yang tahan air secukupnya, larutan HCl 0,1 N, buku catatan lapangan, pensil, spidol waterprof, pisau lipat dan alat GPS. Demi keselamatan pada saat di lapangan, memakai pakaian lapangan, sepatu lapangan dan topi lapangan, sarung tangan, sangat dianjurkan untuk dipergunakan, dan membawa obat-obatan PPPK. Jangan lupa juga peta topografi/peta geologi untuk ploting lapangan dan kompas geologi.

Hasil gambar untuk macro fossil 










designbyluca.com



PERLAKUAN PADA FOSIL MAKRO
Persiapkan palu geologi, pahat kecil, kuas, dan kantong sampel yang tahan air, dan larutan HCl 0,1 N, buku catatan lapangan, pensil dan alat GPS. Palu geologi diperlukan jenis palu batuan sedimen (dengan salah satu ujungnya berbentuk pahat), bersama dengan pahat dipergunakan untuk melepas fosil dari batuan. Bekerjalah dengan hati-hati, karena  pada umumnya fosil yang didapatkan  dalam kondisi relatif  lapuk dan mudah pecah. Sesudah fosil terlepas dari batuan, keringkan fosil yang masih dalam keadaan kotor dengan cara dijemur di panas matahari, dan ditempatkan  pada  para-para yang berlubang-lubang. Apabila fosil sudah dalam keadaan kering, bersihkan “tubuh fosil” dengan kuas yang telah dipersiapkan. Perlakukan fosil dengan baik, bersihkan semua “kotoran” yang menempel.


Catatan
Jangan sekali-kali membersihkan fosil dengan larutan asam keras [(HCl 0,1 N) sekalipun]. Larutan asam ini akan bereaksi dengan kalsium karbonat yang merupakan komposisi utama fosil. Bila ini dilakukan permukaan fosil akan rusak, hiasan (ornament) pada fosil dapat larut dan hilang. Larutan HCl, ditempatkan pada botol khusus, yang berlabel HCl, yang mudah dibawa, tutup botol mudah dibuka dan ditutup rapat. Bila kulit tangan terkena larutan HCl, segera cuci dengan air. Bungkus HCl dengan bungkus plastik dan tempatkan di tas lapangan. Jangan sekali-kali menyimpan larutan HCl dalam saku celana atau baju, karena  dapat mengakibatkan kantong berlubang bila terkena larutan HCl yang “bocor” dari tutup botol. Larutan HCl dapat dibeli di apotek dengan kadar 1 Normal ( 1 N), yang mudah menguap dan sangat reaktif. Untuk keperluan tugas lapangan larutan HCl, 1 Normal tersebut diencerkan dengan air distilasi (aquadestilata atau dapat juga memperguanakan air minum kemasan dalam botol). 

MEMBUAT LARUTAN HCl 0,1 N
Larutan HCl yang disediakan oleh toko bahan kimia/ apotek umumnya sangat kental dengan tingkat kepekatan 1  (satu) Normal,  biasa ditulis 1 N. Larutan asam ini mudah sekali menguap dan berbahaya bila terhirup oleh manusia. Disamping itu larutan HCl 1 (satu) N juga sangat reaktif, bila terkena kulit mengakibatkan kulit mengelupas dan bila terkena kain, kain akan terbakar dan berlubang. Oleh sebab itu larutan HCl yang dibawa ke lapangan tingkat kepekatannya harus diturunkan dengan cara diencerkan.



Rumusan untuk mengencerkan adalah: V1xN1 = V2xN2. Apabila diinginkan N2=0,1 N, sedang larutan HCl yang dipunyai semula kadarnya 1 Normal, maka  persamaan dapat dituliskan sebagai berikut:
V1 = 10 cc, N1 = 1 N, sedang kadar HCl yang diinginkan adalah 0,1 N, maka:
V1x N1 = V2X N2    à 10 cc X 1 N = 100 cc x 0,1 N


Artinya, pada larutan HCl, 0,1 Normal, ditambahkan padanya sebanyak  sebanyak 90 cc  air sehingga secara keseluruhan menjadi 100 cc air. Disarankan pada saat mngencerkan dengan memanfaatkan gelas ukur (yang ada skalanya).
Apabila tahapan  pembersihan fosil tersebut telah selesai dilakukan, tempatkan fosil dalam kantong yang sudah disediakan, dan cantumkan keterangan fosil yang meliputi:
  • Lokasi (nama geografi, kedudukan lokasi, ketinggian tempat-tentukan dengan GPS, nama Formasi batuan).
  • Tanggal, bulan, dan tahun perolehan fosil
  • Nama fosil (dalam kedudukan taksonomi)
  • Nomor koleksi fosil (dengan kode dan nomor)

Agar informasi yang berkaitan dengan fosil tersebut tidak hilang, tulisan ditempatkan pada permukaan kantong, dituliskan dengan spidol waterprof, satu lembar tulisan pada kertas dengan urutan seperti tersebut tersebut di atas, dituliskan dengan spidol waterproof dan dimasukkan pada kantong plastik, usahakan kertas tidak basah terkena air dan tempatkan dalam kantong yang sudah diisi fosil. Apabila kantong contoh terbuat dari kain, tuliskan keterangan seperlunya pada kain tersebut. Apabila dimungkinkan dalam satu kantong dipergunakan untuk menyimpan satu jenis fosil yang sama. Dalam hal fosil yang tidak dapat disimpan dalam kantong (karena terlalu besar, misalnya fosil gading gajah), informasi tentang fosil dapat dituliskan pada permukaan fosil. Fosil dibuatkan kotak khusus terbuat dari kayu. Apabila mungkin tuliskan nomor koleksi pada fosil deskripsi singkat mengenai fosil tersebut sedang keterangan yang lain dapat dituliskan pada log book fosil. Penulisan hal-hal tersebut di atas, segera dilakukan, jangan sekali-kali menunda pekerjaan, satu dan lain hal karena ingatan anda tentang informasi yang berkaitan dengan fosil tersebut masih baik. Timbul pertanyaan: bagaimana  bila kantong contoh mempergunakan kantong plastik. Untuk itu pilih kantong plastik yang tebal, transparan. Pergunakan kantong plastik dobel, masukan kertas catatan diantara lembaran plastik. Perlu diingat: sampel yang disimpan tanpa nomor dan informasi pelengkapnya tidak mempunyai nilai geologi.


No comments:

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...