8/17/14

DINDING CANGKANG FORAMINIFERA



Karakter dasar dari foraminifera adalah adanya cangkang/test yang membentuk kamar-kamar yang dihubungkan oleh pori-pori halus (foramen). Cangkang/test foraminifera dapat trbentuk dari zat-zat yang gampingan,silikaan, chitin ataupun aglutin yang sangat resisten, sehingga golongan ini banyak yang terawetkan sebagai fosil.
Adapun macam-macam dinding cangkang foraminifera yaitu :


Dinding Khitin atau tektin
Merupakan bentuk dinding yang paling primitive pada foraminifera. Dinding tersebut terbuat dari zat organic yang menyerupai zat tanduk, fleksibel, transparan, biasanya berwarna kuning dan tidak berpori (imperforate). Foraminifera yang mempunyai bentuk dinding seperti itu jarang ditemukan sebagai fosil (kecuali golongan allogromidae), sedangkan golongan foraminifera seperti miliolidae, lituolidae, dan beberapa jenis astrorhizidae, sebagian dari dinding cangkangnya juga terbuat dari khitin, tetapi biasanya hanya melapisi bagian dalamnya saja. Cushman (1955) menganggap bentuk dinding ini adalah bentuk dinding yang paling primitive, yang dalam perkembangan selanjutnya akan berubah menjadi dinding aglutin atau arenaceous dengan jalan mengumpulkan material asing dari sekitarnya yang kemudian direkatkan ke bagian luar tubuhnya.
Dinding Aglutin atau arenacous
Adalah dinding test yang terbuat dari material asing yang direkatkan satu sama lain dengan semen. Berdasrkan kulitas, maka ukuran Dan bentuk material yang dipergunakan dapat dibedakan menjadi dua. Pada dinding arenacous, material asingnya hanya terdiri atas butiran pasir saja, sedangkan pada dinding agulitin, material asingnya terdiri atas bermacam-macam material seperti mika, spong-spikulae, cangkang foram, lumpur, Dan sebagainya. Biasanya, test semacam ini mempunyai lapisan khitin yang tipis di bagian dalamnya.
Zat perekat dapat berupa tektin atau khitin yang dihasilkan oleh organisme itu sendiri, atau semen yang kadang-kadang mengandung senyawa besi sehingga menyebabkan warna merah pada permukaan cangkang. Beberapa bentuk foraminifera yang mempergunakan semen gampingan bisanya dijumpai pada lingkungan air hangat, sedangkan yang mengelurkan semen silikaan biasanya dijumpai pada perairan dingin.


Dinding Silikaan (Siliceous)
Dinding tipe ini jarang ditemukan. Material silikaan dapat dihasilkan oleh organisme itu sendiri atau dapat juga merupakan material sekunder dalam pembentukannya. Contoh foraminifera yang dapat mempunyai dinding silikaan adalah golongan Ammodiscidae, Hyperamminidae, silicimidae, Dan beberapa spesies dari golongan miliolidae.
Dinding Gampingan
Williamson (1958), dalam pengamatannya pada foraminifera resen, mengklasifikasikan tipe dinding gampingan ini menjadi dua, yeti dinding porselen Dan hyaline. Tetapi, selain kedua tipe ini masih terdapat tipe dinding gampingan yang lain, yeti tipe dinding gampingan yang granuler Dan kompleks. Jadi, terdapat empat tipe dinding gampingan yaitu :


Dinding gampingan Porselen
Terbuat dari zat gampingan, tidak berpori, mempunyai kenampakan seperti porselen, dengan sinar langsung (episkopik) berwarna opak (Buram) Dan putih, dengan sinar transmisi (Diaskopik) berwarna amber.
Galloway (1933), dengan sinar x, meneliti dinding porselen ini Dan menyimpulkan bahwa tipe dinding tersebut terdiri atas Kristal kalsit yang krypto-kristalin. Sementara itu, Cushman & Warner (1940) beranggapan bahwa tipe ini merupakan campuran dari zat gampingan Dan khitin sehingga menimbulkan warna amber.
Contoh foraminifera berdinding porselen adalah golongan miliolidae seperti quinqueloculina, triloculina, pyrgo Dan golongan peneroplidae seperti peneroplis, sorites, Dan orbitolites.

Dinding Gampingan Hyalin (Vitrocalcarea)
Hampir kebanyakan foraminifera mempunyai dinding tipe ini. Tipe dinding ini merupakan dinding gampingan yang bersifat baning Dan transparan, berpori. Umumnya, yang berpori halus dianggap lebih primitive daripada yang berpori kasar. Golongan Nadosaridae, Globigerinidae, Dan Polymorphinidae mempunyai diameter pori sekitar 5-6 mikrometer, sedangkan beberapa jenis lain seperti anomalina, planulina Dan cibicides besar lubang porinya lebih kurang 15 mikro meter.
Dinding gampingan yang granular
Kebanyakan foraminifera yang hidup pada zaman paleozoikum(terutama yang hidup diawal paleozoikum) mempunyai dinding cangkan yang terdiri atas Kristal kalsit yang granular tanpa ada material asing atau semen, seperti pada Endothyra, beberapa spesies bradyina, hyperammina Dan beberapa bentuk yang menyerupai ammodiscus atau spirillina. Plummer (1930) Dan beberapa penulis lain beranggapan bahwa materi pembentuk dinding ini dihasilkan oleh bintang itu sendiri. Dalam sayatan tipis, dinding ini tampak gelap.
Dinding gampingan yang kompleks
Dinding tipe ini terdapat pada golongan fusulindae (Foram besar) ; mempunyai beberapa lapisan yang berdasarkan lapisan-lapisan tersebut kita data membedakan antara tipe fusulinellid dn schwagerinid.

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...