2/16/16

SELUK BELUK BIOSTRATIGRAFI DAN UMUR GEOLOGI

Stratigrafi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang perlapisan batuan, termasuk didalamnya adalah cara terjadinya (genesa), diskripsi dan aplikasinya dalam geologi dan ilmu teknik yang lain. Berdasarkan atas parameter pembentuknya stratigrafi dibagi menjadi: (1). Lithostratigrafi, (2). Biostratigrafi, (3). Geochronologi  dan, (4). Chronostraigrafi. Geochronologi dan chronostratigrafi  lebih bersifat ilmu murni dengan ruang lingkup regional, sedang lithostratigrafi dan biostratigrafi lebih bersifat lilmu praktis dan bersifat lokal. Secara singkat lithostratigrafi adalah stratigrafi yang penyusunannya di dasarkan atas variasi lithologi, sedang biostratigrafi disusun berdasarkan atas variasi kandungan fosil yang ada pada lapisan batuan tersebut.



LITHOSTRATIGRAFI
litostatigrafi
Lithostratigrafi adalah stratigrafi yang disusun berdasarkan atas variasi lithologi. Dengan demikian maka anda akan selalu berhadapan dengan terminology yang berkaitan dengan batuan sedimen. Walaupun demikian karena stratigrafi suatu daerah tidak hanya melibatkan batuan sedimen, namun:
·         juga dapat merupakan kombinasi antara batuan sedimen dan batuan metamorf,
·         batuan sedimen dan batuan beku,
·         batuan sedimen dengan batuan beku dan batuan metamorf
·         batuan beku dengan batuan metamorf.
Dalam  aplikasinya, lithostraigrafi dipakai sebagai dasar untuk membuat peta geologi suatu daerah. Timbul pertanyaan, mengapa lithostratigrafi yang dimanfaatkan, dan bagaimana dengan biostratigrafi ?
Uraian berikut akan menjawab pertanyaan tersebut, mengapa lithostratigrafi dipakai sebagai dasar untuk menyusun peta geologi. Dasar-dasar tersebut antara lain:
·         Terjadinya batuan baik itu batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf  cara terjadinya (genesanya) di seluruh dunia adalah sama. Dengan demikian sifat fisiknya  antara lain jenis batuan,  ukuran butir, warna dan komposisi mineralogidan kimia bersifat universal.
·         Batuan baik itu batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf mempunyai pelaparan secara lateral maupun secara vertikal. Dengan demikian dengan dasar lithologi anda dapat menggambarkan pelamparan batuan secara lateral dan dapat juga diketahui (secara tidak langsung) ketebalan dari batuan yang bersangkutan (dengan membuat sayatan geologi ataupun dengan melakukan pemboran).
·         Variasi lithologi mudah dikenal dilapangan tanpa memanfaatkan alat bantu mikroskop, sehingga pekerjaannya akan menjadi lebih sederhana.
·         Dengan mengenal macam lithologi, akan menjadi mudah untuk mengetahui potensi sumberdaya  alam yang ada ditempat tersebut. Potensi sumber daya alam dapat meliputi potensi air tanah, potensi bahan galian yang meliputi bahan galian padat, bahan galian gas ataupun bahan galian yang berbentuk cair.
·         Perlapisan batuan sedimen lebih sering tampak nyata adanya perlapisan. Dengan adanya perlapisan tersebut dapat diketahui kemungkinan terjadinya  struktur perlipatan maupun struktur  patahan.
·         Batuan mempunyai sifat fisik yang terkhususkan.
o  Sifat fisik batuan dapat juga diketahui dengan memperhatikan sifat rambatan gelombang (dengan geofisika seismik maupun geolistrik),
o   Sifat kemagnitan batuan ( geomagnit),
o   Berdasarkan atas variasi  sifat dari berat jenis mineral penyusunnya (gravity).
Bagaimana dengan biostratigrafi ?. Sebelum membahas tentang biostratigrafi akan lebih baik apabila anda mengingat kembali tentang:
·         Berbagai macam fosil berdasarkan atas taksonominya (klasifikasi kehidupan)
·         Berbagai macam fosil berdasarkan atas ukurannya (fosil mikro dan fosil makro)
·         Berbagai fosil berdasarkan atas pemanfaatannya  antara lain fosil indeks untuk umur,  fosil indeks untuk kedalaman (fosil bathymetri),  fosil indeks untuk iklim, fosil indeks untuk lingkungan (marine, terestris, lagoon, open sea),  fosil horizon

UMUR GEOLOGI
Time Scale
Dalam ilmu geologi dikenal umur relatif dan umur absolute. Umur relatif ditentukan berdasarkan  atas fosil indeks untuk umur yang ditunjukkan dengan umur dalam skala waktu geologi.
Timbul pertanyaan: apa itu umur absolute dan bagaimana caranya menentukan umur absolute suatu lapisan batuan
Bila umur geologi  relatif itu ditunjukkan oleh fosil indeks umur dan ditransformasikan pada waktu geologi, maka umur absolute dinyakatan dengan hitungan angka. Cara menentukan umur absolute suatu fosil dengan mengukur sifat radioaktivitas unsur yang ada dalam fosil itu sendiri atau dengan mengukur radioaktivitas mineral yang ada disekitarnya. Metode penentuan umur absolute ini dikenal dengan nama lain yaitu: Metode pertanggalan Radioaktif. Metode ini perhitungannya berdasarkan atas:
(1). Teori peluruhan zat radioaktif yang mengikuti persamaan de Alembert atau dikenal dengan istilah carbon dating. Dalam hal ini dipergunaan unsure C14 yang terdapat pada fosil atau pada batuan yang mengandung fosil tersebut. Teori pertanggalan ini berdasarkan aktivitas C14 yang masih terdapat pada material kuno yang akan dicari umurnya. Benda (material) kuno yang akan dicari umurnya, bisa berupa tulang, kayu sisa bangunan, tanaman, binatang dan alat-alat yang dipakai manusia (terutama dari kayu). Teori pertanggalan radiocarbon (C14) berkembang sekitar tahun 1950 oleh JW.Libby yang merupakan kelanjutan dari yang ia rintis sejak tahun 1930. Perhitungan umurnya mengikuti persamaan D’Alembert sebagai berikut:
A=Aoe-ct
Dengan notasi bahwa: A=aktivitas kandungan zat radioaktif C14  pada saat ditemukan; Ao =aktivitas kandungan zat radioaktif C14 mula-mula; dan t= umur benda (material) yang dicari.
Dipilih C14  sebagai dasar pertanggalan  karena C14, walaupun termasuk golongan radiasi primordial, namun C14 berasal dari radinuklida kosmogenis yang jatuh ke bumi berdasarkan reaksi inti:
N14 + n1 à C14 + p1
Carbon C14 setelah sampai di atmosfer bumi akan bereaksi dengan oksigen menjadi carbondioksida (CO2). Selanjutnya carbondioksida melalui proses fotosintesis pada tanaman akan menjadi karbohidrat. Jadi tanaman akan selalu mengandung karbohidrat yang mengandung C14. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah”
C14  + O2 à C14O2
Melalui fotosintesa dengan bantuan khlorofil daun akan terbentuk karbohidrat (glukosa). Reaksinya adalah sebagai berikut:
6C14O2 + 6H2O + energy matahari à C146H12O6  + 6 H2O
Melalui makanan C146H12O6 (yang merupakan karbohidrat) yang ada C14 nya akan masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan, sehingga secara internal manusia, hewan (hewan darat, hewan laut) dan tanaman selalu akan mengandung C14. Manusia dan hewan selama masih hidup akan selalu makan karbohidrat berarti juga selalu akan mengkonsumsi C14. Setelah manusia dan hewan mati (dan juga tanaman), C14 yang terkandung di tubuh manusia dan hewan (dan juga tanaman) akan meluruh dengan waktu paro 5730 tahun. Apabila pada  suatu saat jasad manusia atau hewan (dan juga tanaman) yang membentuk fosil, maka lama waktu fosil terpendam (sejak mati hingga ditemukan) dapat dihitung berdasarkan persamaan:
A =Aoe-ct
e-ct = A/Ao
ect = Ao/A sehingga didapat t=1/c ln (Ao/A)
dengan catatan:
A =aktivitas C14 saat ditemukan
Ao =aktivitas C14 semula (pada waktu masih hidup)
C= konstanta peluruhan C14 + 0,693/t ½ =0,693/5730 = 12,o9.10-5 tahun-1
t = waktu (lama terpendam) yang dicari
Untuk memudahkan perhitungan aktivitas C14 dihitung dalam disintegrasi per menit per gram carbon. Dari hasil analisis beberapa tanaman yang masih hidup dan bagian tubuh (jaringan) hewan/manusia yang masih hidup, diperoleh harga Ao atau harga C14 yang ada per gram carbon sebesar = 13,56 + (kurang lebih 0,07 dpm. Dengan demikian harga t (umur benda kuno/fosil) sama dengan:

t= (1+c) ln (Ao/A)
t=[1/ (12,09.10-5)] ln (13,56/A) tahun
t= (19,03x103) log (13,56/A) tahun
Bila sampel benda/fosil kemudian dicuplik dan dianalisis untuk mengetahui A-nya. Setelah  A-nya diketahui, maka umur fosil tersebut segera bisa dihitung berdasarkan persamaan di atas.
(2). Teori pertumbuhan dan pernbandingan radionuklida dalam batuan atau mineral. Teori pertanggalan terdiri atas beberapa metode, yaitu:
a.      Pertanggalan dengan metode K-A
b.      Pertanggalan dengan metode perbandingan Ar40/Ar39
c.       Pertanggalan dengan metode RB-Sr
d.      Pertanggalan dengan metode Sm-Nd
e.      Pertanggalan dengan metode Lu-Hf
f.        Pertanggalan dengan metode Re-Os
g.      Pertanggalan dengan metode K-Ca
h.      Pertanggalan dengan metode U, Th-Pb
i.        Pertanggalan dengan metode Fission track
j.        Pertanggalan dengan metode deret U
Dengan cara tersebut diatas maka umur absolute semua fosil dapat dihitung. Nomor absolute fosil (indeks) tersebut kemudian ditransformasikan ke umur geologi secara relatif (lihat skala waktu geologi),  dan terketahui umur dari fosil indeks
Timbul pertanyaan: adalah syarat tertentu yang mencirikan fosil indeks itu ?
Syarat fosil indeks adalah:
·         Mempunyai penyebaran vertikal (dalam skala waktu geologi) pendek, serta mempunyai penyebaran lateral secara luas.
·         Mudah dikenal dan  ditemukan dalam jumlah banyak.
·         Untuk dapat menyebut nama fosil indeks hingga pada taksonomi terkecil (genus atau species/subspecies) fosil harus dijumpai dalam keadaan lengkap (dapat diidentifikasi). Makin rendah tingkatan nama fosil, makin singkat umur geologi fosil yang bersangkutan. Oleh sebab kemampuan melakukan determinasi fosil sangat  diperlukan.
Timbul pertanyaan :
Pada batuan  sedimen jenis yang mana kemungkinan dijumpai fosil ?
Bagaimana dengan pada batuan metamorf ?
Bagaimana dengan pada batuan beku ?
Bagaimana dengan pada batuan pyroklastik berbutir halus ?


1/25/16

Climate Change - Past, Present & Future: A Very Short Guide (Paleontological Research Institution Sp

Climate Change - Past, Present & Future: A Very Short Guide (Paleontological Research Institution Sp
Debate over the cause and impacts of climate change has gone on for decades. Today, there is little doubt that greenhouse gases warm the atmosphere and that human-induced climate change is real. Greenhouse gases in the

atmosphere today are at a record level being just below 400 parts per million about 40 percent higher than in pre-industrial times. Many actions are now underway to enhance an understanding of the full impacts of climate change and to create resilient and adaptive responses. Actions by federal agencies to respond to climate change are
called for in Executive Order (EO) 13653 and the US Climate Action Plan issued by President Obama in 2013.
A major challenge facing society and a key theme of this paper is building consensus within federal and state governments and between government and industry on how best to anticipate, respond, and adapt to continuing changes in climate. As history shows, such collaboration is often hard to achieve but is absolutely necessary to address the cause and impacts of climate change. Hence, a key goal of the EO 13653 and the US Climate Action Plan is for the federal government to work with state and local government and tribal leaders on designing and implementing effective and resilient responses to impacts of climate change.
Toward accomplishing this objective, the Climate Action Plan invokes partnerships as a critical means to develop systems that are more resilient to climate change. A key goal of the plan is to remove policy barriers, modernize programs, and establish a short-term task force of state, local, and tribal officials to advise the federal government on key actions in support of local and state efforts to prepare for climate change. In particular, the plan calls for innovative strategies in regions such as those affected by Superstorm Sandy to develop knowledge about strengthening communities against future extreme weather and other climate impacts. The action plan also aims to deliver specific science-based knowledge to government and specific private sectors to help them understand,
prepare for, and reduce the impacts of climate change.

CONTINUE READ

Climate Change - Past, Present & Future: A Very Short Guide (Paleontological Research Institution Sp

Palaeobiology of Middle Paleozoic Marine Brachiopods: A Case Study of Extinct Organisms in Classical Paleontology


17435973












































Fossil species appear to persist morphologically unchanged for long intervals of geologic time, punctuated by short bursts of rapid change as explained by the Ecological Evolutionary Units (EEUs). Here, morphological variation in Paleozoic atrypide morphology at the subfamily level (Atrypinae and Variatrypinae) from the Silurian and Devonian time intervals in the third Paleozoic EEU (~444-359 my) were investigated using relatively new techniques of quantitative modeling. The study explains how a group of closely related taxa in atrypide subfamilies exhibit morphological conservation through time in P3 EEU within the Eastern North America region


CONTINUE READ

1/13/16

HEMAT AIR TANAH

http://care-takers.org/wp-content/uploads/2015/12/
Hemat airtanah adalah penggunaan air tanah sesuai keperluan, secara efisien dan rasional, tidak boros serta tidak berlebihan.
Mengapa harus hemat airtanah:
            Airtanah merupakan sumber daya alam yang sangat vital, keberadaannya sangat diperlukan bagi kehidupan manusia.
            Airtanah keberadaanya hanya di tempat tertentu yaitu tersimpan di dalam akuifer yang tersebar tidak merata di permukaan bumi, baik kuantitas maupun kualitasnya;
http://www.swcd.mo.gov/grundy/images/   Airtanah terbentuk oleh proses siklus hidrologi dan hidrogeologi, mulai dari penguapan sampai air masuk dalam akuifer (lapisan penyimpan dan pembawa air) yang memerlukan waktu yang relatif lama (hingga ribuan tahun).
  Jika kondisi airtanah di akuifer rusak (menurun kuantitias maupun kualitasnya), maka pemulihannya memerlukan waktu relatif lama. Oleh karena itu air tanah merupakan sumber daya alam yang terbatas dalam ruang dan waktu karena keberadaanya tidak merata di seluruh tempat, baik kuantitas maupun kualitasnya dan hanya dapat diperbaharui secara alami dalam waktu relatif lama.
                                                                                                                                               
            Penghematan penggunaan airtanah merupakan bagian dari upaya koservasi airtanah untuk menjaga kelangsungan keberadaan, daya dukung dan fungsi airtanah secara terus menerus dan berkesinambungan.
Bagaimana Cara Hemat Air Tanah ?
1.     Menggunakan airtanah secara efektif dan efisien:
-         Menggunakan air sesuai kebutuhan;
-         Menghindari pemborosan penggunaan air;
-         Pemanfaatan peralatan yang hemat air
-         Menggunakan meteran air untuk memantau pengambilan airtanah
-         Merawat peralatan instalasi air secara berkala serta mengganti peralatan yang rusak.
2.     Mengurangi penggunaan airtanah
-         Air bersih dari air tanah hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari
-         Membuka kran setengah dari bukaan total dalam penggunaan;
-         Menutup kran segera ketika air tidak digunakan
-         Membuat bak penampug air hujan sebagi air cadangan
3.     Menggunakan kembali airtanah
-         Menggunakan air bekas untuk menyiram tanaman;
-         Menggunakan air bekas cucian untuk mencuci mobil
Kemudian dibilas dengan air bersih;
-         Menggunakan air bekas untuk flushing
4.     Mendaur ulang airtanah ;
-         Air kotor didaur ulang pada instalasi pengolah air sesuai standar baku selanjutnya diresapkan ke dalam tanah atau digunakan kembali untuk kebutuhan lainnya;
-         Membuat bak penampungan air bekas pemakaian yang masih mempunyai kualitas cukup baik untuk dipergunakan kembali
-         Membuat sumur resapan air hujan ke dalam tanah.
5.     Mengambil airtanah sesuai dengan kebutuhan
-         Menggunakan sistem penampungan air
-         Menggunakan sistem otomatis untuk mengambil airtanah berdasarkan kapasitas penampungan air
-         Untuk pertanian, air tanah digunakan terutama untuk tanaman yang hemat air.
6.     Menggunakan airtanah sebagai alternatif terakhir
-         Mengutamakan penggunaan air permukaan
-         Memanfaatkan air hujan
-         Mengutamakan penggunaan perusahaan air minum/ perusahaan daerah air minum bagi daerah yang terjangkau layanan.
7.     Mengembangkan dan menerapkan teknologi hemat air
-         Menggunakan shower untuk mandi
-         Menggunakan penggelontor otomatis
-         Menggunakan keran hemat air
-         Menggunakan teknologi lain yang terbukti lebih hemat air
Memberikan insentif bagi pelaku penghematan airtanah; dan/atau memberikan disinsentif bagi pelaku pemborosan airtanah
http://whcpty.com/wp-content/uploads/2014/08/

CADANGAN MINYAK PENYANGGA NEGARA

 https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/22/Supranational_Asian_Bodies.svg/
          Cadangan penyangga minyak memiliki nilai strategis, terutama bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Karena dapat digunakan untuk mengatasi situasi darurat seperti bencana alam dan perang.
            International Energy Agency (IEA) mensyaratkan anggotanya memiliki cadangan penyangga minyak selama 90 hari. Artinya saat kondisi darurat, kebutuhan energi nasional bisa terpenuhi selama 90 hari.
            Realitasnya jumlah cadangan penyangga setiap negara bisa berbeda. Bergantung pada tingkat konsumsi energi,produk domestik bruto dan jumlah produksi minyak. Jumlah penduduk dan angkatan kerja juga memberikan andil pada jumlah kebutuhan rasional cadangan penyangga setiap negara.

            Hingga saat ini Indonesia belum memiliki cadangan penyangga. Angka-angka beikut bisa memberi gambaran bagaimana kesiapan sebuah negara untuk menjamin cadangan energi nasionalnya, termasuk Indonesia.
CADANGAN PENYANGGA :
1.    USA
a.    Cadangan penyangga: 204 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         : 316.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 50 %
d.    Konsumsi Minyak          : 18.886.000 bph
e.    Produksi Minyak            : 10.003.000 bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD 16.800 miliar

2.    JEPANG 
a.    Cadangan penyangga: 148 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         :127.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 62 %
d.    Konsumsi Minyak          : 4.551.000 bph
e.    Produksi Minyak            : 467.000bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD 4.901 miliar

3.    KOREA SELATAN
a.    Cadangan penyangga: 96 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         :49.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 37 %
d.    Konsumsi Minyak          : 2.460.000 bph
e.    Produksi Minyak                        : -
f.     Produk Domestik Bruto : USD 1.304 miliar

4.    THAILAND
a.    Cadangan penyangga: 81 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         :67.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 39 %
d.    Konsumsi Minyak          : 1.221.000 bph
e.    Produksi Minyak            : 459.000 bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD 387 miliar


5.    CHINA
a.    Cadangan penyangga: 77 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         : 1.349.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 37 %
d.    Konsumsi Minyak          : 10.756.000 bph
e.    Produksi Minyak             : 4.180.000 bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD 9.240 miliar

6.    SINGAPORE
a.    Cadangan penyangga: 60hari impor
b.    Jumlah Penduduk         : 5.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 36 %
d.    Konsumsi Minyak          : 1.259.000 bph
e.    Produksi Minyak            : 0
f.     Produk Domestik Bruto : USD 297 miliar

7.    VIETNAM
a.    Cadangan penyangga:  47 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         : 92.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 41%
d.    Konsumsi Minyak          : 378.000 bph
e.    Produksi Minyak             : 350.000 bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD 171 miliar

8.    INDIA
a.    Cadangan penyangga:  14 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         : 1.236.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 52%
d.    Konsumsi Minyak          : 3.727.000 bph
e.    Produksi Minyak            : 897.000 bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD 1.876 miliar

INDONESIA
a.    Cadangan penyangga:  0 hari impor
b.    Jumlah Penduduk         : 251.000.000
c.    Rasio angkatan kerja    : 52%
d.    Konsumsi Minyak          : 1.623.000 bph
e.    Produksi Minyak            : 882.000 bph
f.     Produk Domestik Bruto : USD  868 miliar

Data per 2013 diambil dari BPS,kementrian ESDM, International Energy Agency, World Bank.
(Reference : Irfan Satryo, Y.H. Murthi . Energi View 2014)

Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...