11/15/14
11/7/14
PENGERTIAN DASAR BIOSTRATIGAFI
BIOSTRATIGRAFI
(selukbeluk
pendahuluan biostratigrafi)
Dalam buku SSI , yang merupakan
turunan Code of Stratigraphy Nomenclature, diperkenalakan macam stratigrafi
yang meliputi Biostratigrafi, Lithostratigrafi, Chronostraatigrafi, dan
Geochornology. Dalam aplikasi praktis yang paling
banyak dimanfaatkan adalah lithostratigrafi dan Biostratigrafi. Untuk pembuatan peta geologi dimanfaatkan konsep
lithostratigrafi, yaitu penyusunan staritigrafi yang didasarkan pada variasi
litologi yang dijumpai dilapangan. Berdasarkan atas kesamaan variasi
litologi beberapa penampang stratigrafi terukur di lapangan dalam suatu
cekungan sedimentasi, dapat diketahui “larinya’’ suatu Formasi batuan, apakah
mempunyai tebal yang sama dan menerus, merupakan lapisan yang membaji atau
berbentuk seperti lensa.
Biostratigrafi,
yang dasar penyusunannya memanfaatkan fosil data utamanya. Pengalaman penyusunan biostratigrafi membuktikan bahwa ketelitian
penyusunan biostratigarfi sangat tergantung dari jenis fosil yang digunakan.
Biostartigrafi
terutama untuk mengetahui biozona (zona) yang mengandung cebakan hidrokarbon,
sebagai salah satu komponen dalam melakukan korelasi paleontology, baik dalam
satu cekungan sedimentasi ataupun antar cekungan sedimentasi yang berdekatan.
Keberadaan fosil makro ternyata tidak merata di seluruh lapisan bataun
sedimen, disamping fosil makro mudah rusak
oleh pengaruh eksogen sehingga dalam proses determinasi lebih banyak kurang
memuaskan.
Studi mengenai mikropaleontologi,
sejalan dengan penelitian foraminifera, yang
diawali oleh Alcide d Orbigny (1802-1875), seorang paleontologist Perancis,
diikuti dengan studi
mengenai ostarcoda oleh Christian Goltfied Ehrenberg seorang paleontologist
Jerman. Istilah micropalentologi pertama kali
diperkenalkan oleh Ford pada tahun 1883, dalam penelitiannya tentang Bryozoa.
Microfosil dalam core samples yang selanjutnya
dimanfaatkan untuk menentukan umur geologi oleh W.Dames dan L.G. Bornemann, Jr
1874), dilanjutkan oleh Karrer, telah
membuka pandangan baru tentang manfaat mikrofosil. Pembelajaran
secara sistematika dari beberapa core samples hasil pemboran diawali oleh
Grzybowsky (1897), seorang paleontologist Polandia, telah mampu membuka
cakrawala baru, pemanfaatan mikrofosil dalam industry jasa eksplorasi.
Fosil mikro,
disamping dijumpai dalam jumlah cukup banyak, juga hampir selalau didapatkan
pada semua lapisan sedimen. Beberapa pertimbangan, pemanfaatan fosil
mikro untuk menyusun biostratigrafi antara lain :
·
Di dalam satuan volume handspeciesmen yang sama, akan dijumpai
fosil mikro yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan keberadaan fosi makro.
·
Selain itu, fosil mikro yang didapatkan pada umumnya masih dalam
keadaan baik, sehingga memudahkan dalam melakukan determinasi, sebaliknya fosil
makro, pada umumnya ditemukan sudah dalam keadaan rusak, pecah-pecah, sehingga
mengakibatkan kita kesulitan dalam melakukan determinasi.
Oleh karenanya, saat sekarang paleontologist dalam menyusun
biostartigrafi lebih tetarik memanfaatkan fosil mikro. Perkembangan alat-alat
laboratorium paleontology ditunjang dengan penemuan scening electrone
micrograph yang mampu memperbesar lapanga pandang hingga lebih dari seribu
kali. Disamping itu alat ini dapat dipakai untuk memotret, sehingga sangat
membantu dalam menyusun biostratigrafi dengan memanfaatkan fosil mikro. Timbul pertanyaan
mendasar, apakah semua jenis fosil dapat dimanfaatkan untuk menyusun
biostratigrafi ?
10/25/14
KONSEP DASAR PENYUSUNAN BIOSTRATIGRAFI DENGAN FOSIL MIKRO
KONSEP
DASAR PENYUSUNAN
BIOSTRATIGRAFI
DENGAN FOSIL MIKRO
Penyusunan
biostratigrafi dengan memanfaakan fosil mikro, contoh batuan yang
diproses dapat diperoleh dengan cara :
- Mengambil contoh (sampel) batuan di lapangan dari singkapan batuan terpilih
- Memanfaatkan contoh batuan dalam bentuk core pemboran di lapangan
- Memanfaatkan sampel batuan dari serpihan pemboran / cutting
Dalam
menyusun biostratigrafi, prosedur kerja harus diikuti. Prosedur kerja
tersebut antara lain :
- Persiapkan semua contoh batuan yang akan diproses, susun sesuai dengan urutan startigrafi, catat nomor kode batuan yang akan dianalisis
- Contoh batuan yang sudah dipersiapkan, diambil sebagaian dengan volume tertentu atau dengan berat tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat vertilitas (kelimpahan fosil) batuan
- Contoh batuan yang terpilih, diproses untuk mendapatkan washed residu
- Proses washed residu lebih lanjut dan pisahkan antara fosil dengan mineral
- Deskripsi semua fosil yang telah dipisahkan hingga tingkatan sepcies. Manfaatkan figure type fosil yang ditemukan untuk menentukan nama dalam taksonomi
- Hitung jumlah individu untuk masing-masing spesies
- Susun dalam bentuk table nama fosil dan kelimpahannya. Disarankan dalam membuat tabel nama fosil disamping dipertimbangkan urutan stratigrafi contoh batuan, juga kemunculan awal FA dari spesies yang bersangkutan perlu diperhatikan
- Susun biostratigrafi dengan konsep :
- Apabilah contoh batuan diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, (yaitu pada saat membuat startigrafi terukur, baik stratigarfi lintasan tunggal atau berjenjang, tatacara menyusun biostartigrafi memperhatikan FA. Hal ini dipertimbangkan karena tidak terjadi kontaminasi fosil dari contoh batuan lain. Disamping itu, kedudukan contoh batuan dapat diketahui dengan pasti.
- Apabila contoh batuan yang diperoleh merupakan core, kemunculan awal atau FA yang harus diperhatikan, mengingat karena sampel batuan tidak terkontaminasi dengan contoh batuan yang lain, juga kedudukan dan kedalaman dapat diketahui dengan pasti.
- Apabilah contoh batuan yang diperoleh merupakan serpihan pemboran maka kemunculan akhir dari fosil itu (LA) yng harus dicermati. Hal tersebut dilakukan karena sampel batuan telah terkontaminasi dengan serpihan batuan yang lain. Kontaminasi tersebut tidak dapat dihindari dan pasti akan terjadi.
Disamping kedudukan
atau kedalaman belum diketahui dengan pasti. Biostratigrafi yang
disusun oleh Billman dkk (1987) mempergunakan konsep Kemunculan akhir
dari spesies fosil. Hasil penelitian mereka membuktikan bahwa foram
bentos kecil dapat dipergunakan untuk menyusun biostratigrafi
Apabilah tahapan
penyusunan biostratigrafi telah selesai dilakukan, langka selanjutnya
paleontologist melakukan interpertasi sesuai dengan tujuan penelitian
geologi.
- Pengambilan Sampel Untuk Menyusun Biostratigarfi Dengan Metode Pengamatan Langsung Di Lapangan
- Persiapkan peta geologi daerah yang akan diteliti
- Tentukan Formasinya
- Lakukan Orientasi Lapangan
- Cari dan tentukan singkapan litologi dengan GPS
- Tentukan kedudukan stratigarfi litologi dengan berpedoman pada strike & dip
- Apabila daerah yang bersangkutan tidak mempunyai peta geologi maka anda harus : Membuat peta geologi terlebih dahulu, kemudian tentukan formasi batuan yang akan diteliti biostratigrafinya
- Apabila dilapangan tidak didapatkan singkapan batuan, karena permukaan topografinya tetutup oleh palapukan batuan atau endapan alluvial, maka sampel batuan terpaksa diperoleh dengan cara melakukan pemboran dangkal
- Timbul pertanyaan mendasar, berapa meter interval pengambilan sampel batuan ? secara ideal, tiap perlapisan diambil contonya !
- Timbul pertanyaan, bagaimana apabilah perlapisan batuan tipis yaitu batuan yang mempunyai ketebalan satu sentimeter, sedang tebal formasi batuan keseluruhan 500 meter, bilamana dan berapa banyak contoh yang harus diambil ?
- Lakukan treatment sampel dengan mengikuti standart kerja yang telah ditentukan.
Reference
: Script/note Lecture Geology Eng (Institut of science &
Technology Akprind Yogyakarta)
(VARIASI PEMANFAATAN FOSIL) FOSIL SEBAGAI BAHAN TIRAI
FOSIL SEBAGAI BAHAN TIRAI
Fosil
yang dimanfaatkan untuk membuat tirai, pada umumnya dipilih dari klas
Gastropoda, filum Mollusca. Pemilihan ini didasarkan pada bentuk
gastropoda yang panjang dan meruncing. Fosil yang mmpunyai bentuk
seperti turritella dan rimella sangat dianjurkan. Sebagai tali
perangkai dipergunakan tali benang plastic.
Ketelitian
dalam pemilihan spesiesmen fosil yang akan dirangkai, meliputi ukuran
yang seragam dan warna yang bervariasi akan mengekspresikan nilai
seni tersendiri, dan menentukan harga nialai jual
(VARIASI PEMANFAATAN FOSIL) FOSIL SEBAGAI ORANAMEN
FOSIL SEBAGAI ORANAMEN
Fosil
khususnya valve pelecypoda, banyak dimanfaatkan sebagai campuran
membuat tegel lantai berpola mosaic.
Caranya
: fosil pelecypoda dengan valve tebal, dipecah-pecah, kemudian
dicampur sebagai “kepala” pada permukaan tegel.
Tegel
moasik yang dimanfaatkan untuk lantai apabilah suda dipoles akan
memberi kesan kenampakan yang sangat indah. Keindahan akan bertambah
apabilah ditemukan valve yang tebal dan berwarna.
Apabila
anda mempunyai tegel moasik untuk lantai rumah, jangan sekali-kali
lantai dibersikan dengan cairan pembersih yang mengandung asam. Daya
larut lantai tegel mosaic dengan asam cukup tinggi. Apabilah lantai
tersebut dibersikan dengan larutan asam, permukaan atas tegel larut
permukaan tegel menjadi kusam, untuk mengembalikan kesan tidak kusam,
lantai perlu dipoles kembali sampai mengkilat.
BAHAN GALIAN DI DAERAH BATUAN METAMORF
Batuan
metamorf merupakan batuan hasil malihan (metamorphose) dari batuan
lain yang umur geologinya relatif lebih tua. Dengan demikian batuan
metamorf dapat berasal dari:
- Batuan beku
- Batuan sedimen, atau
- Batuan metamorfPada batuan meta sedimen (batuan metamorf yang belum sempurna) sifat-sifat asal batuan seringkali masih dapat dilihat dengan mata telanjang. mIsal mineral phenocryst pada batuan beku masih tampak, atau fosil atau perlapisan pada batuan sedimen masih dapat dikenal.5.1. MENGENAL BATUAN ASALBatuan metamorf merupakan hasil proses metamorfose. Batuan metamorf dapat berasal dari:
- Batuan beku, batuan sedimen ataupun batuan metamorf.
- dengan demikian bahan galian yang pada awal terdapat pada batuan asal dipastikan akan terdapat pada batuan metamorf. Sebagai contoh:
- Apabila pada batuan beku terdapat bahan galian logam dalam bentuk emas, maka pada batuan metamorf juga akan terdapat emas. Perlu diingat mineral logam tidak akan mengalami proses metamorfosa
- Bila dalam batuan sedimen terdapat mineral kuarsa maka pada batuan metamorf akan terdapat mineral kuarsit yang merupakan hasil metamorfose mineral kuarsa
- Bila dalam batuan asalnya banyak didapatkan mineral amphibole maka batuan hasil metamorfosanya akan didapatkan mineral asbes.
- Bila dalam batuan asalnya banyak didapatkan mineral biotit atau muscovite maka pada batuan metamorf yang terbentuk dijumpai mineral phlogopite.
Dengan demikian mengetahui asal mula batuan metamorf adalah sangat penting karena dapat mengetahui jenis bahan galian yang terdapat pada batuan metamorf.- Bahan galian logam tidak akan mengalami metamorfose, namun tetap seperti keadaan semula (bila pada batuan beku yang merupakan asal batuan metamorf) semula ada emas maka pada batuan metamorf-nya juga akan terdapat emas.
- Bahan galian non logam dapat mengalami metamorphose, sebagai contoh antara lain:
- Mineral kuarsa bila terkena proses metamorfose akan membentuk mineral kuarsit
- Mineral biotite maupun mineral muscovite bila terkena proses metamorphose akan membentuk mineral phlogopite
- Mineral kalsit apabila mengalami proses metamorphose akan membentuk mineral onyk
- Mineral lempung apabila mengalami proses metamorphose akan membentuk slate
- Mineral amphibole apabila mengalami proses metamorphose akan membentuk mineral asbes5.2. MACAM METAMORFOSEProses metamorphose merupakan peristiwa alam yang sangat kompleks dan berjalan dalam waktu jutaan tahun. Proses tersebut hingga saat ini belum dapat ditiru oleh manusia dengan lingkup yang luas. Skema terjadinya proses metamorphose dapat digambarkan sebagai berikuBatuan metamorf dapat terbentuk sebagai akibat:
- (1). Metamorfose kontak (thermal), dimana suhu merupakan faktor utama. Sebagai contoh; intrusi batuan beku pada batugamping akan menghasilkan batu pualam (marmer).
Pertanyaannya:Bagaimana anda mengetahui bahwa ditempat itu terdapat intrusi [yang mengakibatkan kontak (thermal) metamorfose ?].Untuk mengetahui hal tersebut perhatikan petunjuk sebagai berikut: - Perhatikan berbagai macam batuan pada peta geologi, apakah ditempat tersebut terdapat batuan beku yang merupakan batuan intrusi ?. Anda harus tahu perbedaan antara bentuk intrusi dan non-conformity
- Peta geologi yang dibuat adalah peta geologi permukaan. Oleh sebab itu ada kemungkinan batuan beku yang dimaksud tidak tersingkap sampai permukaan sehingga tidak tergambarkan dalam peta geologi yang anda baca.
- Dalam hal yang demikian maka satu-satunya metode yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui variasi/tingkat metamorfosenya. Bila tingkat metamorfosenya berbeda-beda antara satu tempat dengan lain tempat pada daerah penyebaran batuan yang masih sama maka dapat dipastikan itu sebagai akibat metamorfose kontak (thermal)
- Sebagai salah satu contoh intrusi batuan beku pada batugamping. Bila tingkatan metamorfosenya berbeda beda (ada batuan marmer dan ada batuan metasedimen dari batugamping) dipastikan itu
- merupakan metamorfose lokal. Kenampakan ini didekati dengan pengamatan petrografi
- Hal yang sama dapat anda ketahui pada batuan slate (batu sabak), pada batuan metamorf sebagai jenis phylit, gneiss, sekis dan sebagainya.
- Metamorfose regional, dimana tekanan (akibat tektonik) memegang peranan penting
Tektonik yang menghasilkan proses metamorfose juga mempunyai penyebaran yang luas. Oleh sebab itu batuan metamorf yang dihasilkan oleh memorfose regional mempunyai tingkatan metamorfose yang sama5.3. BAHAN GALIAN PADA BATUAN METAMORFPada dasarnya bahan galian yang terdapat pada batuan metamorf paling tidak mengikuti pada batuan asalnya. Apabila batuan asalnya merupakan batuan beku yang mengandung logam emas (Au) maka sangat dimungkinkan pada batuan metamorf-nya juga akan mengandung emas. Dengan demikian maka anda tidak perlu heran mengapa pada batuan metamorf dapat ditemukan logam-logam yang semula dianggap hanya terdapat pada batuan beku saja. Beberapa batuan/mineral dapat berubah menjadi mineral yang telah mengalami metamorfose. Komposisi mineralogi relatif tetap, namun sifat fisik dan juga mungkin sifat optiknya akan berubah. Beberapa contoh antara lain:Mineral kalsit yang semula merupakan komposisi batugamping, akan mengalami perubahan sifat fisik dan optiknya menjadi marmer., namun komposisi kimianya tetap
PENGGOLONGAN DAN GENESA BAHAN GALIAN
Tidak semua tempat
dipermukaan bumi terdapat semua jenis bahan galian yang anda
pelajari. Dari pengalaman lapangan terdapat hubungan yang erat
antara genesa ((cara terbentuknya) bahan galian dan tempat dimana
bahan galian tersebut ditemukan. Berbagai cara penggolongan bahan
galian telah disusun. Anda tinggal mengaplikasikan sesuatu dengan
keperluan.
2.1.
PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN
Penggolongan
bahan galian dapat dilakukan dengan beberapa cara. Model penggolongan
yang mana yang dapat anda lakukan sangat tergantung pada
keperluannya. Penggolongan tersebut adalah sebagai berikut:
(1). Berdasarkan
atas cara terbentuknya
(2). Berdasarkan
atas bentuk/fasenya
(3). Berdasarkan
atas unsure pembentuknya
(4). Berdasarkan
atas terdapatnya
(5). Berdasarkan
atas cara teknik penambangan
(6). Berdasarkan
atas cara pengambilannya
(7). Berdasarkan
atas peranannya dalam pembangunan bangsa
(8). Berdasarkan
atas keberadaannya
(9). Berdasarkan
atas tingkat kemurniannya
Dari
berbagai cara penggolongan bahan galian tersebut, penggolongan yang
bersifat universal, paling ilmiah dan paling netral adalah pembagian
yang didasarkan atas cara terjadinya (genesa), yaitu
Pertimbangan
yang lain; pembagian bahan galian nomor 2 sampai dengan nomor 9, ada
yang masuk pada bahan galian primer atau bahan galian sekunder.
2.2.
GENESA BAHAN GALIAN
Seperti
telah dijelaskan pada uraian tersebut di atas, pembagian yang
sifatnya universal, ilmiah dan netral adalah: Bahan galian primer dan
Bahan galian sekunder
(1).
Bahan galian primer
Bahan
galian primer adalah bahan galian yang terjadinya berkaitan langsung
dengan proses kegiatan magma. Magma pada saat membeku akan terjadi
diferensiasi magma yaitu:
Deferensiasi
magma akan mengikuti suatu reaksi yang dikenal dengan reaksi Bowen
(Bowen Reaction Series
Pada
Bowen Reaction Series tersebut akan diikuti dengan proses pembentukan
mneral logam dan mineral non logam
Pembentukan
bahan gaiian dapat juga terjadi secara perlahan-lahan sesuai dengan
titik beku dari logam yang bersangkutan. Oleh sebab itulah:
Untuk
memisahkan berbagai jenis antara:
Dilakukan dengan teknik flotasi atau dengan
ore dressing
2).
Bahan galian sekunder
Bahan
galian sekunder adalah bahan galian yang merupakan hasil
rombakan/detrital batuan yang terbentuk secara primer. Seperti telah
anda ketahui, batuan yang terbentuk secara primer adalah batuan beku.
Batuan
beku juga dapat mengalami proses metamorfose menjadi batuan metamorf.
Kesimpulan
akhir:
Bahan
galian sesuai dengan cara terjadinya dapat dijumpai pada daerah
penyebaran:
Catatan
Dalam
hal komponen/fragmen pembentuk batuan sedimen merupakan batuan
karbonate dan mempunyai besar ukuran butir:
Dengan
melihat peta geologi (yang sudah ada) atau peta geologi yang berhasil
dibuat, anda dapat melakukan interpretasi awal tentang:
2.3.
TERDAPATNYA BAHAN GALIAN
Bahan
galian dapat dijumpai dimana saja, namun bahan galian Industri
tertentu akan terdapat pada batuan tertentu pula
Dengan
demikian makin banyak variasi lithologi yang dapat dibaca pada peta
geologi:
Dari
genesa dan bentukan morfologi anda sudah dapat menduga bahan galian
apa yang akan didapatkan didaerah tersebut. Beberapa contoh dapat
dilihat sebagai berikut:
Masih
banyak indikator/pertanda alam yang dapat dipakai sebagai tempat
kemungkinan didapatkannya bahan tambang. Perhatikan hal-hal berikut:
|
Subscribe to:
Posts (Atom)
Featured Post
TEKNIK DETERMINASI
Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...
-
Pengertian Bentang alam struktural adalah bentang alam yang pembentukannya dikontrol oleh struktur geologi daerah ...
-
Pengertian Bentang alam fluvial merupakan satuan geomorfologi yang erat hubungannya dengan proses fluviatil....