3/31/14

BERSAMA WWF KITA PEDULI LINGKUNGAN DALAM MENGURANGI PENCEMARAN AIR LINDI DI TPA DENGAN METODE REUSABLE SANITRY LANDFILL (STUDI KASUS TPA PIYUNGAN YOGYAKARTA)

BERSAMA WWF KITA PEDULI LINGKUNGAN DALAM MENGURANGI PENCEMARAN AIR LINDI DI TPA DENGAN METODE REUSABLE SANITRY LANDFILL
(STUDI KASUS TPA PIYUNGAN YOGYAKARTA)

Latar Belakang
Pertambahan penduduk pada kota-kota besar, secara signifikan telah berdampak terhadap bertambahnya limbah yang dihasilkan, terutama limbah rumah tangga. Dari hasil limbah ini diperkirakan sebanyak 60 % dari jumlah total sampah perkotaan yang diangkut ketempat pembuangan akhir sampah (TPA) untuk diproses, dengan menggunakan teknologi landfill.
Teknlogi landfill ini merupakan cara yang sampai saat ini paling banyak digunakan diberbagai kota, karena dipandang sebagai teknologi yang relatif murah dan mudah pengoprasiannya. Namun pengunaan teknologi ini berpotensi menimbulkan masalah lingkungan, terutama masalah pencemaran lindi (Leachate), disamping pencemaran bau dan timbulnya berbagai serangga yang sangat menggangu kehidupan masyarakat disekitarnya.
       Lindi dari TPA merupakan bahan pencemar yang dapat menggangu kesehatan manusia dan pencemaran lingkungan, karena dalam lindi tersebut terdapat berbagai senyawa kimia organik maupun anorganik serta sejumlah bakteri patogen, salain itu juga mengandung amoniak, timbal dan mikroba parasit seperti kutu air (Sarcoptens sp) yang menyebabkan gatal-gatal pada kulit.
Pencemaran linkungan sebagai dampak dari kehadiran TPA pada suatu wilayah, hampir terjadi pada sebagian besar kota di Indonesia, terutama kota-kota besar. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi apabilah pengelolah kota dapat memberikan perhatian yang proporsional terhadap sarana yang diperlukan oleh TPA. Ironisnya, pengelolah kota bahkan sudah beranggapan bahwa dengan TPA yang dimiliki sudah dapat menyelesaikan semua permasalahan sampah.
Untuk menangulangi permaslahan lindi yang berasal dari TPA ini, berbagai upaya pengelolahan telah dilakukan, namun dari berbagai macam cara itu belum membuahkan hasil yang baik.

Tujuan metode reusable sanitry landfill
1). Untuk menangulangi permaslahan lindi yang berasal dari TPA
2).Mendeskripsikan pegetahuan dan pengenalan kepada masyarakat bahwa metode Reusable Santry Landfill merupakan solusi dalam permasalahan pencemaran air lindi.
3). Mengurangi pencemaran lingkungan dan bibit penyakit disekitar TPA
4) Sebagai aksi tindakan pro lingkungan yang didukung oleh WWF dan BlogDetik.

Manfaat
1) Pencemaran lingkungan disekitar TPA berkurang
2) Kesehatan masyarakat disekitar TPA semakin membaik
3) Membantu program pemerintah dalam penangulagan pencemaran lingkungan

Gagasan
TPA Piyungan merupakan tempat penampungan sampah yang mengunakan teknologi controlled landfill dan telah beroperasi sejak tahun 1995, TPA ini merupakan yang terbesar di Yogyakarta dan terletak di kabupaten Bantul mencakup 12,5 hektar, dengan 10 hektar untuk pembuangan sampah dan 2,5 hektar untuk fasilitas kantor. Sampah di TPA bersumber dari Bantul, kota Yogyakarta dan Sleman. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi dan komposisi lindi di TPA tersebut, salah satunya adalah pengaruh curah hujan, yang meyebabkan produktivitas lindi semakin banyak. Selain itu, topografi lokasi TPA juga mempengaruhi pola limpasan dan keseimbangan tubuh air yang akan berdampak terhadap kulitas air tanah disekitarnya. 

Solusi yang pernah ditawarkan adalah dengan mengunakan penampungan dan pengelolahan dengan proses aerasi dalam dua bak yang telah dibangun, yang selanjutnya dibuang ke perairan bebas melalui parit menuju sungai opak. Namun proses aerasi ini tidak dilakukan setiap hari, bahkan terdapat aliran lindi yang tidak masuk ke dalam bak penampung dan bak aerasi, tetapi langsung menuju ke tubuh sungai.
Dengan mengunakan Reusable Sanitry landfill pencemaran air lindi akan berkurang, karena air hujan tidak akan masuk ke dalam material limbah padat dan tidak akan mengalami pencampuran dengan bahan-bahan yang berasal dari limbah, sehinggah air yang mengalir ke dalam tanah tidak tercemari. Hal ini disebabkan kerana metode ini dirancang dengan mengunakan geo membran lapisan mirip plastik berwarna dengan ketebalan 2,5 milimeter yang terbuat dari High DensityPolyitilin, salah satu senyawa minyak bumi. Lapisan ini yang nantinya akan menahan air lindi, sehingga tidak akan meresap ke dalam tanah dan tidak akan mencemari air tanah. Di atas lapisan geo membran dilapisi lagi geo tekstil yang gunanya memfilter kotoran sehingga tidak bercampur dengan air lindi.





Adapun pihak-pihak yang dipertimbangkan dapat membantu dalam pengimplementasikan program ini yaitu :
1) Pemerintah Kabupaten Bantul
Dengan dukungan dari pemerintah Bantul, dapat menghasilkan rencana yang sinergis antara perencanaan, penggangaran, pelaksanaan dan pengawasan operasional pengelolahan Reusable Sanitry Landfill, baik dalam aspek kewilayaan maupun aspek sektoral.
2) BPPT ( Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi )
Sebagai Pengrealisasian pengadaan teknologi Reusable Sanitry Landfill.

Teknik Implementasi
Berikut ini adalah strategi pelaksanaan program ini secara umum :
a) Lahan tempat sampah digali dimana elevasi terendah dari lokasi TPA minimal 60 cm diatas tinggi maksimal dari muka air tanah.
b) Bagian dasar diberikan campuran tanah liat dan dipadatkan. Lahan ini disebut ground liner.
c) Usai campuran tanah liat dipadatkan, kemudian dilapisi dengan geo membran, lapisan mirip plastik berwarna yang dengan ketebalan 2,5 milimeter yang terbuat dari High Density Polyitilin, salah satu senyawa minyak bumi.
d) Di atas lapisan geo membran dilapisi lagi geo tekstil yang gunanya memfilter kotoran sehingga tidak bercampur dengan air lindi.
e) Sampah yang menumpuk diatas lapisan geo tekstil ini kemudian ditutup dengan menggunakan lapisan geo membran untuk mencegah menyebarnya gas metan akibat proses pembusukan sampah (yang dipadatkan) tanpa oksigen.
KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan merupakan sebuah aksi tindakan peduli lingkungan yang didukung oleh WWF Indonesia dan BlogDetik. Gagasan ini adalah sebuah metode terapan dalam penagulangan pencemaran air lindi di TPA Piyungan, dengan mengunakan metode Reusable Sanitry Landfill yang dirancang mengunakan geo membran dan geotekstil dalam ground linear, yang nantinya akan mencegah pembentukan air lindi, sehingga tidak akan ada pencemaran kedalam tanah. Gagasan ini tidak akan berjalan dengan lancar apabilah tidak ada dukungan dari pihak-pihak pendukung diatas. Dan manfaat dari metode ini yaitu :
1) Pencemaran lingkungan disekitar TPA berkurang
2) Kesehatan masyarakat disekitar TPA semakin membaik
3) Membantu program pemerintah dalam penangulagan pencemaran lingkungan

DAFTAR BACAAN
http://agendajogja.com/pengelolahan-limbah-sampah-di-tpa-piyungan yogyakarta (diakses pada : 9 ferbuari 2013 )
Noor Djauhari. 2011. Geologi Untuk Perencanaan. Cetakan Pertama. Yogyakarta. Graha Ilmu.

3/1/14

STUDI GEOLOGI TEKNIK



Berat Jenis
            Berat jenis merupakan perbandingan relative antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni air dan bermassa jenis 1gr/1000 kg/ m3. Berat jenis tidak mempunyai satuan satu dimensi.
            Berat jenis mempunyai rumus Bj M.g/v atau w/v dengan satuan n/m3.
Cara kerja pengukuran berat jenis di laboratorium :
Alat dan Bahan :
·         Gelas ukur 1 L,
·         Batu yang dipotong 6x6 berbentuk kubus dan
·          timbangan.
Cara Kerja
·         Sampel Batuan ditimbang dan dicatat beratnya
·         Gelas di isi air 800 mm
·         Sampel batuan dimasukan kedalaam gelas ukur kemudian dicatat setiap perubahan yang terjadi
·         (Berat jenis (massa/ volume)

V.2 Porositas

            Porositas sering dinyatakan dalam persentase, dan porositas selalu mempunyai sifat indeks juga berfokus pada volume dan volume pori total dan tidak mempertimbangkan berat dari suatu benda
13
 N = v/vt x 100     0 ≤ n ≤ 1


= vt= Vv + Vs
= e= n/ 1-n
            Cara kerja pengukuran porositas di laboratorium
·         Mengunakan rumus ø = Vbulk – Vsolid  : Vbulk x 100 %
·         Ww-Wo : V x 100 %
·         Ambil sampel batuan berukuran 6 x 6
·         Panaskan pada shu 1050C selama 24 jam atau keringkan kadar air (kurang dari 1%) kemudian ditibang untuk mendapat Wo
·         Ambil bejanan ukur 1 L, masukan air sampai 250 mililiter
·         Masukan sampel batuan kedalam bejana yagn telah terisi air
·         Ukur perubahan volume untuk mendapat Vo
·         Angkat sampel batuan yang masih basah dan timbang, jangan biarkan air keluar dari pori-pori untuk mendapat nilai Ww

V.3 Profil Tanah
Tanah berasal dari batuan atau zat anorganik yang mengalami pelapukan. Berubahnya batuan menjadi butir-butir tanah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
  • Iklim
Unsur iklim yang berpengaruh dalam pembentukan tanah adalah suhu dan curah hujan. Pengaruh suhu terhadap pembentukan tanah dalam dua cara. Pertama, memperbesar penguapan tanah. Kedua, mempercepat reaksi kimia dalam 


tanah. Curah hujan yang relative tinggi dapat mengakibatkan proses pelapukan dan pencucian berlangsung dengan cepat. Sehingga, tanah akan mengalami pelapukan lanjut, yng dicirikan oelh kandungan unsur hara yag rendah.
  • Organisme
Bahan organik pada tanah yang melimpah sangat mempengaruhi jenis dan proses pembentukan tanah. Nitrogen dalam tanah dapat diikat tanah dari udara oleh mikroorganisme yang hidup dalam tanah dan bersimbiosis dengan tanaman. Jenis vegetasi juga akan mempengarui jenis-jenis tanah vegetasi rumput membentuk tanah-tanah hitam karena banyak kandungan bahan organic yang berasal dari akar- akar dan tanah-tanah hutan denagan warna merah. Selain memengaruhi jenis tanah, vegetasi juga dapat mengrangi terjadinya erosi tanah sehingga befungsi membatsi jumlah kehilangan tanah.
  • Bahan induk
Bahan induk tanah sangat memengaruhi jenis dan jumlah tanah yang dihasilka. Tanah yang terdapat di permukan bumi sebagian memperlihatkan sifat-sifat yang sama dengan bahan induknya. Misalnya tanah-tanah berstruktur pasir merupakan akibat dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi. Selain mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan, susunan kimia dan mineral bahan induk kadang-kadang menentuan jenis vegetasi yang dapat hidup di atasnya.
  • Topografi
Topografi suatu daerah juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan tanah, yaitu dapat mempercepat atau memperlambat pelapukan melalui aliran air.  


Pada daerah datar akan membentuk tanah yang berbeda dengan daerah miring atau belereng terjal.

  • Waktu
Lamanya waktu pembentukan tanah dapat menentukan jenis tanah yang dihasilkan. Bahan induk yang berbeda akan memengaruhi waktu pelapukan batuan.
  • Pelapukan
Pelapukan yang terjadi pada batuan atau sisa-sisa jasad kehidupan pada proses terbentuknya tanah dapat berlangsung secara tiga macam sebagai berikut :
1.      Khemik / kimiawi, yaitu pelapukan yang disebabkan oleh pengaruh bahan kimia yang larut dalam air. Adanya rekasi kimia pada zat yang terkandung dalam air menyebabkan batuan mengalami penghancuran.
2.      Fisik/ Mekanis, yaitu pelapukan yang disebabkan oelh faktor perubahan cuaca yaitu peristiwa pemanansan pad asinag hari dan pendinginan pada malam hari, sehingga lambat laun batuan mengalami penghancuran.
3.      Biologis, yaitu pelapukan yang disebabkan karena adanya tumbuhan yang hidup di atas batuan, misalnya lumut. Batuan yang ditumbuhi lumut lama kelamaan akan mengalami pelapukan, sehingga hancur dan menjadi butir-butir tanah.
 



Profil Tanah Daerah Penelitian
1. Lokasi Pengamatan satu ( Daerah Babaksari 

Hasil pengukuran Profil tanah pada Lp 1 :
Horizon O 1  = 3,15 m
Horizon O2 = 4,60 m
Horizon A1  = 5,70 m
Horizon A2 = 7,9 m
Horizon A3 = 15,95 m
Horizon B1 = 18, 90 m
H= A2
H = A 1
H = o1& 2
Horizon B2 = 28,30 m
                                                              Profil Tanah pada daerah piyungan 
RQD ( Rock Quality Designation)
            Tujuan RQD adalah untuk mengetahui julah rekahan. Dengan rumus yang digunakan :  RQD = Jumlah rekahan > 0,1 m ( 10 cm) / Penjang kemajuan pipa.
            Perhitungan  RQD biasa didapat dari perhiungan langsung dari singkapan batuan yang mengalami ratakan-retakan (Baik lapisan batuan maupun kekar atau sesar) berdasarkan rumus Hudson.
V.5.1 Pengambilan Sampel Daerah Penelitian
 

    1. Lokasi Pengamatan 1

Lokasi pengamatan 2 
Data Uji Kuat Tekan 



Featured Post

TEKNIK DETERMINASI

Siapkan perlengkapan untuk determinasi sebagai berikut: Mikroskop binokuler Tray yang berlubang-lubang kecil dengan dasar h...